Orang Tua Wajib Tau! Hati-hati Kalau "Anak Sering Jatuh Meski Bukan Balita", Bisa Jadi Dia “Mengidap Ini”!

Dalam tahap proses tumbuh kembang anak untuk dapat berjalan, ada serangkaian proses yang harus dilalui. Mulai dari tengkurap, terlentang, duduk, merangkak, berdiri dengan bantuan, berjalan dengan merambat, baru akhirnya berjalan tanpa bantuan sama sekali.

Sponsored Ad

Biasanya dalam proses tersebut anak bisa saja terjatuh karena masih mengembangkan keseimbangan tubuh dan kemampuan ototnya.

Keseimbangan adalah proses yang tidak mudah karena dikelola oleh sinyal antara otak, mata, telinga, sendi dan bagian tubuh lainnya.

Namun, para orang tua tetap harus waspada jika anak relatif lebih sering terjatuh dibanding anak lain ketika usianya sudah cukup besar. Bisa jadi itu merupakan gangguan tumbuh kembang anak.

Dalam sebuah penelitian yang mengumpulkan 130 balita berusia 12-19 bulan ditemukan bahwa balita rata-rata jatuh 17 kali per jam dan balita yang baru belajar akan jatuh 69 kali per jamnya.

Sponsored Ad

Perlu dikonsultasikan pada dokter jika si anak sering jatuh dan menunjukkan gejala seperti:

Sponsored Ad

-kehilangan kesadaran

-kesulitan bernapas

-mengantuk

-kejang

-muntah

-mengeluarkan cairan bening dari telinga atau hidung

-pupil mata membesar

-mengeluarkan banyak darah

-patah tulang

-lemas

-rewel

-bingung / linglung

-mengeluh sakit kepala

Dituturkan oleh dr. Richardus Herman Waluya, SpA, ada beberapa kemungkinan mengapa anak sering jatuh.

Yang pertama bisa jadi karena susunan otak, saraf perifer, dan sensorik yang terganggu sehingga menimbulkan kesulitan berpikir, merencanakan, memproses informasi dan mengeksekusinya dalam gerakan. Hal ini dinamakan motor dyspraxia atau ceroboh (clumsy).

Sponsored Ad

Dyspraxia sejak kecil sudah bisa dilihat misalnya terlambat merangkak, berjalan dan berguling. Di usia batita mereka kesulitan mengayuh pedal sepeda roda tiga atau melakukan kegiatan fisik lainnya seperti berlari, naik tangga, dan melompat. Saat berjalan cenderung lebih cepat atau sering terjatuh.

Sponsored Ad

Kedua, kelainan bentuk kaki. Pada saat berdiri, tulang paha, lutut ke bawah dan engkel harus berada pada posisi lurus. Pada tungkai bawah kaki anak terjadi pertumbuhan dan perkembangan di mana ada perputaran atau rotasi sampai usia 6-7 tahun.

Jika sudah melewati usia itu tapi anak masih sering terjatuh kemungkinan ada kelainan pada anatomi kaki seperti kaki datar (seluruh bagian telapak menempel di tanah), berjalan jinjit, kaki O atau kaki X.

Ketiga, kebiasaan duduk dengan posisi W

Sponsored Ad

Kebiasaan duduk seperti orang Jepang bersila ini menyebabkan jempol kaki menghadap ke dalam dan lututnya membentuk X. Hal ini dinamakan in-toeing-gait (pengkor) yaitu berjalan dengan jari-jari kaki mengarah ke dalam yang seharusnya jari kaki saat berjalan lurus ke depan atau ke luar. Dalam kasus ini anak terjatuh karena tersandaung kaki sebelahnya saat melangkah dengan cepat.

Keempat, gangguan penglihatan. Kelainan penglihatan antara lain refraksi (rabun jauh atau rabun dekat atau keduanya), kelainan retina, kelainan lensa mata (katarak), juling, atau bisa juga kelainan kornea.

Sponsored Ad

Nah, itu tadi beberapa alasan yang menyebabkan anak sering jatuh. Selain di atas bisa juga karena cerebral palsy, kelainan metabolik, kelainan kromosom dan lainnya. Sebaiknya diwaspadai ya Moms saat anak sudah menunjukkan tanda-tanda jatuh yang lebih sering dari anak seusianya.


Sumber: intisari

Video rekomendasi: