Ibu Mertua Kesal Gak Dibagi Uang, Tapi "Perkataan Adik Ipar" Bikin Ia Terbungkam!

Aku dan suami berkenalan di tempat kerja, kami berdua sama-sama saling menyukai. Setelah 2 tahun berpacaran, kami memutuskan untuk menikah. Pernikahan kami sempat ditentang oleh ibu mertua, tapi…

Setelah melihat kondisi keluargaku, ibu mertua sedikit senang. Baginya, yang menjalankan kehidupan nantinya adalah aku dan anak laki-lakinya.

Sponsored Ad

Suami masih punya seorang adik perempuan. Waktu itu adiknya baru lulus kuliah dan bekerja di perusahaan yang cukup baik dengan gaji yang cukup tinggi. Bisa dibilang adiknya ini adalah cerminan wanita mandiri. Dan aku setelah menikah cuma jadi ibu rumah tangga yang tidak bekerja. Namun, suamiku tidak mempermasalahkannya, meski penghasilan suami tidaklah besar, tapi dia tidak pernah pusing dengan urusan uang, pada waktu itu ibu mertua juga tidak tinggal bersama kami.

Sponsored Ad

Kemudian, tidak tahu bagaimana adik iparku malah keluar dari pekerjaannya, dia bilang mau berbisnis sendiri. Awalnya ibu mertua tidak setuju karena menurutnya anak gadis itu gak perlu bersusah payah, cukup menikah dengan pria kaya saja. Waktu itu adik ipar juga mau pinjam sedikit uang dari ibunya, tapi tidak disetujui.

Lalu, adik ipar pun meminjam uang kepadaku. Ia berkata, "kak, aku boleh pinjam uang gak? Aku tau mahar kakak waktu itu ada 90 juta, aku pinjam 75 aja, nanti pasti aku kembalikan. Saudaraku cuma kak Dewi dan kak Angga aja yang bisa tolongin aku." Melihat keseriusan adik ipar dalam berbisnis, aku pun mencoba berdiskusi dengan suami. Waktu itu, aku bilang gak perlu tulis surat perjanjian pinjam uang, tapi adik ipar memaksa harus membuat surat itu, dia bilang saudara tetap saudara, tapi urusan pinjam uang itu adalah urusan lain. Perkataannya seperti ini membuatku semakin yakin bahwa aku tidak salah liat orang.

Sponsored Ad

Setelahnya, adik ipar membangun perusahaan kecilnya sendiri, dari yang cuma sendiri, kini dia sudah memiliki belasan karyawan. Kehidupan aku dan suamiku masih sama saja dari dulu sampai sekarang, tapi bisnis yang dilakukan adik ipar semakin lama semakin membaik. Bahkan ibu mertua yang tadinya tidak setuju pun mulai memuji adik ipar.

5 tahun pun berlalu, suatu hari adik ipar datang ke rumah untuk makan bersama, lalu dia memberikan sebuah kartu untukku, dia mengatakan bahwa ia mau mengembalikan uang 75 juta yang dipinjam dan bilang bahwa di dalam kartu itu ada 100 juta rupiah. Aku kaget dan langsung buru-buru bilang tidak perlu dikembalikan lebih, kembalikan uang pinjamannya saja sudah cukup. Lalu, ibu mertua melihat adik ipar dengan tatapan sinis, namun adik ipar tidak menghiraukan ibunya. Lalu, ibu mertua langsung merebut kartu itu dan bilang bahwa tidak perlu mengembalikan uangnya ke aku karena perusahaannya juga baru berkembang. Aku pun tidak tahu harus bilang apa.

Sponsored Ad

Melihat tindakan ibunya, adik ipar pun segera berkata, "waktu itu kak Dewi yang bantu aku, selama 5 tahun ini dia gak pernah menagih uang dan kebaikannya selalu aku ingat dalam hati. Tentu aku harus membalasnya. Ibu kok bisa bicara seperti itu, jadi kalau aku berubah jadi orang yang gak pedulian, ibu baru seneng?"

Setelah berkata seperti itu, adik ipar langsung mengambil balik kartunya dan menaruhnya di atas tanganku. Ia bilang bahwa aku harus menerima uang ini, tanpa bantuanku, dia tidak akan seperti sekarang. Mendengar perkataan adik ipar, ibu mertua pun merasa malu dan cuma bisa diam saja.

Sponsored Ad

Selesai makan, aku pergi ke bank untuk menyetor kelebihan 25 juta itu ke adik ipar. Sebuah keluarga harus bisa saling membantu di saat-saat masa sulit. Sebenarnya aku cukup mengambil uang milikku saja, lagipula selama ini adalah hasil kerja keras adik ipar, sebagai kakak dan kakak ipar, kita tidak boleh mengambilnya, saling mengerti dan toleransi saja.

Sumber: buddhanet01