Dia Nyeleweng dan Aku Maafkan Dia, Tapi "Rasa Takut" Terus Membayangiku!

Bila dia slingkuh, pilih bercerai atau tetap bertahan?

Kalau bercerai, apakah dia bisa menyesal dan berubah?

Kalau tidak bercerai dan memilih memaafkan, apa dia tidak akan melakukannya lagi?

Aku sama sekali tidak menyangka, ternyata aku bisa dslingkuhi dan mengalami kisah seperti drama-drama Korea. Setahun setelah menyadari perslingkuhan suami, aku memilih bertahan namun hidup dalam pernikahan yang sudah tidak ada rasa saling percaya.


Kami saling kenal, saling cinta selama 6 tahun. Aku tidak menyangka sama sekali, pria yang begitu menyayangiku bisa bermain api di belakangku. Setelah semua ini, apa aku masih bisa mempercayai dia?

Aku masih ingat dengan jelas hari itu. 21 September 2016, saat kami sudah selesai makan malam, dia langsung pergi mandi. Ketika dia mandi, ponselnya tak henti bergetar. Mungkin ada hal penting, pikirku. 

Aku pun membuka ponselnya dan melihat pesan di layar yang bertuliskan: "Aku kangen nih, turun dong...Aku sudah ada di bawah rumah kamu.."

Pandanganku langsung kabur sesaat. Dar4hku seakan-akan naik semua ke ubun-ubun, dan tanganku bergetar tiada henti. Aku benar-benar tidak bisa percaya, pria yang begitu baik padaku ternyata menyeleweng.

Bukti yang kulihat jelas di ponselnya mengetuk hatiku dengan keras!


Suami yang kukira mencintaiku, telah berhubungan dengan wanita lain tanpa sepengetahuanku.

Saat aku berusaha menghemat demi dia, bahkan bulan madu pun tak aku lakukan. Ternyata dia malah pergi ke hotel bersama wanita lain.

Saat aku bersusah payah membesarkan anak, dia malah bermanja-manja dengan wanita lain.


Aku berusaha untuk menenangkan diri dan mengembalikan ponselnya ke tempat semula. Saat dia selesai mandi dan berpakaian, dengan sikap yang biasa, dia menanyakanku mau kemana saat libur kemerdekaan. Beberapa hari yang lalu aku sudah sangat senang bisa berlibur berdua dengannya, namun pada detik ini, aku merasa ini sangat menggelikan. 


Aku menjawab dengan rasa pahit, "Kamu yang tentuin saja.."

Ia merasa ada yang tidak beres denganku dan ingin bertanya, namun ponselnya tiba-tiba berdering lagi. Ia langsung menuju beranda untuk menjawab teleponnya. Biasanya aku tidak peduli sama sekali dengan teleponnya, namun kini aku sadar, ketidakpedulianku ternyata merupakan suatu kebodohan.


Aku pura-pura mengangkat jemuran di beranda lalu mendengar ucapan suamiku, "Kamu tunggu bentar, aku turun sekarang."

Setelah menutup ponselnya, ia langsung berkata, "Ada masalah di kantor, aku mau keluar dulu, kamu tidur dulu saja."

Ia pun segera mengambil jaket dan tas, lalu beranjak pergi. Bila aku tidak mengikutinya, aku tidak akan melihat pemandangan yang membuatku menggila itu. Aku melihat Rosa (pelakor) merangkul suamiku dan mereka berjalan ke tepi sungai di taman dekat rumah. Mereka berpelukan lalu berciuman mesra. Hatiku serasa seperti dirajam ribuan jarum, sak!tnya luar biasa, sampai bernafas pun terasa sulit.


Aku berlari pulang dengan air mata memenuhi wajahku. Saat dia pulang, aku tak tahan untuk mengutarakan semuanya kepadanya. Dia terus menjelaskan, terus membela diri, mengatakan bahwa dirinya dan wanita itu hanyalah "cinta satu malam", sedang yang dia cintai adalah aku.. Dia meminta maaf dan bersumpah bahwa dia akan memutuskan hubungannya dengan wanita itu.


Aku benar-benar tidak mengerti kenapa hal ini bisa terjadi di hidupku. Apa cinta kami selama bertahun-tahun hanyalah permainan? Kenapa dia bisa bermain api di antara 2 wanita? Dia yang terlalu pintar atau aku yang terlalu bodoh?

Walaupun menyakitkan, aku akhirnya memaafkannya dan memberikan kesempatan kedua. Namun, hubungan kami tidak seperti dulu lagi. Rasanya berbeda 180 derajat. Aku menjadi sangat sensitif dan curigaan, mudah marah-marah dan emosian. Bahkan hal kecil saja bisa membuat kami bertengkar. 

Mungkin karena merasa bersalah, dia awalnya masih akan membujukku dan membaik-baikiku dengan berbagai macam cara. Namun pelan-pelan saat emosiku tak kunjung membaik, dia mulai menjauh dan diam tanpa berkata apa-apa lagi. Semakin dia terdiam, semakin marahlah aku. Pertanyaan demi pertanyaan terus menghantui pikiranku.

Apa dia sudah tidak mencintaiku lagi?
Apa dia merindukan wanita itu?

Berulang kali kutanyakan pertanyaan itu kepadanya, dan jawabannya adalah tidak, namun rasa curigaku tetap ada. 

Kalau benar cinta padaku, kenapa malah menyeleweng??


Tak peduli bagaimana penjelasannya, aku selalu tak puas dan berakhir dengan pertengkaran. Walau kami tinggal 1 atap, tidur di 1 kamar, tapi jarak kami berdua terasa semakin jauh dan jauh...

Sampai suatu kali, dia berkata, "Aku sudah tidak tahan lagi, kita cerai saja.."

Kenapa malah menjadi begini? Aku jelas-jelas sudah memaafkannya dan ingin hidup bersamanya sampai tua, kenapa bisa sampai tahap seperti ini? Apa aku yang salah? Apa yang harus aku lakukan?


Aku yang hidup dalam ketakutan dan kekecewaan akhirnya mencari seorang pakar percintaan di internet. Apa yang dikatakannya sungguh membuka lebar mataku..

"Suami menyeleweng, musuh terbesarmu bukanlah pelakor, bukan juga suami, tapi setan dalam hatimu! Apa itu setan dalam hatimu? 

Kamu takut, setelah meninggalkan suami kamu tidak akan bisa mandiri, kamu takut suami akan menyeleweng untuk kedua kalinya!
Kamu tidak rela pengorbananmu untuk pernikahan malah sia-sia, kamu tidak rela kamu kalah dengan wanita yang tidak lebih dari kamu!
Kamu takut tidak bisa temukan pria yang lebih baik dari suamimu. Bila kamu hanya hidup dari rasa cinta, rasa aman, yang diberikan orang lain, berarti ada ketidakseimbangan dalam hidupmu."

Saran dari pakar itu adalah, aku harus memahami diriku sendiri, lebih mencintai diri sendiri, menerima setiap kelebihan dan kekuranganku. Aku harus belajar menjadi lebih kuat, mengandalkan diri sendiri untuk mendapatkan apa yang aku mau. 


Setiap emosiku muncul, aku akan menenangkan diri, menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya, lalu bertanya kepada diri sendiri, kenapa aku marah, kenapa aku takut, apa yang sebenarnya aku inginkan. 

Pelan-pelan, setelah belajar mengontrol diri, aku mulai tenang dan semakin jarang berpikir negatif.

2 minggu setelah meminta saran dari pakar, aku mengajak suami makan bersama dan mengatakan kalimat yang diajarkan pakar. "Kamu telah menyakitiku, dan aku sudah melakukan intropeksi diri. Aku memang tidak cukup dewasa saat mengatasi masalah ini. Aku juga tahu, kita berdua sangat lelah karena masalah ini. Walaupun bercerai akan membuatku sangat bersedih, tapi aku sudah berpikir matang-matang, bila kamu tetap ingin bercerai, aku tidak akan menghentikanmu."


Mungkin dia tidak pernah berpikir kalau aku akan menyetujui perceraian.. Saat mendengar perkataanku, ia kaget dan diam sejenak. Dari matanya aku bisa melihat suatu penyesalan dan keraguan. Setelah itu, walau kami tidak bisa kembali seperti dulu lagi, namun kami tidak bercerai. Walau kadang ada pertengkaran kecil, ia tidak pernah mengajukan permintaan cerai lagi.


Aku akhirnya mengerti, saat kita mandiri dan kuat, kita juga bisa memegang kendali atas pernikahan. 

"Berikan rasa aman dan harga diri kepada diri sendiri, mandirilah secara material dan rohani. Dengan begitu kamu tidak perlu takut dislingkuhi lagi. Gunakan kharismamu untuk menarik hati dia.." begitu saran dari pakar yang kujadikan sebagai pedoman.


Setelah kondisi rumah tangga kami menjadi lebih stabil, aku terus berjuang untuk memberi diri sendiri rasa aman dan harga diri. Aku mulai belajar meningkatkan diri, belajar skill-skill untuk bekerja agar tidak perlu takut lagi tidak bisa hidup tanpa dia. Aku mulai membaca banyak buku untuk wawasanku. 

Mungkin perubahanku telah berpengaruh pada rumah tanggaku. Kami tidak lagi bertengkar, dan dia semakin lama semakin perhatian padaku. Bahkan suatu kali dia pernah berkata ingin memberiku semua password HP, komputer, wechat dan akun-akunnya yang lain. Aku mengatakan tidak mau, karena memeriksa semua akun-akunnya bukanlah cara yang efektif untuk mencegahnya menyeleweng. Ujung-ujungnya malah aku sendiri yang capek.

"Kalau kamu benar-benar mencintaiku, kontrollah diri sendiri agar tidak melewati batas. Tidak akan ada lagi kesempatan kedua." kataku kepadanya.


3 bulan kemudian, suasana suram dalam rumah perlahan menghilang dan menjadi hangat. Dia semakin perhatian dan lengket padaku. Aku pergi 2 jam saja pun dia akan terus mencariku, meneleponku setiap 30 menit. Seakan-akan takut aku direbut orang.

Bila kamu memiliki masalah yang sama denganku, segeralah lepaskan diri dari belenggu ketakutanmu! Janganlah bergantung pada orang lain, tapi belajarlah untuk menjadi lebih kuat, lebih mandiri! Aku yakin, pernikahan orang lain bisa bahagia, berarti pernikahan kamu juga bisa bahagia!

Sumber: twgreatdaily

Kamu Mungkin Suka