Aku Selalu Memberikan yang Terbaik untuk Anak, Nyatanya Salah dan Malah Merusak Karakter Anak!

Apakah kamu sering mendengar bahwa kebanyakan orang tua sekarang ini sering kali mengatakan,”Waktu kami kecil dulu, apa-apa susah. Belum lagi kalau gak nurut langsung dimarahi dan dipukul. Kami tidak mau anak-anak kami mengalami kepahitan yang sama, maka dari itu kami pasti akan berusaha sekuat tenaga agar mereka bahagia.”

Sponsored Ad

Siapa sangka, hal ini malah menjadikan orang tua terlalu memanjakan anak-anak mereka. Mereka merasa bahwa cara mendidik orang tua zaman dulu dan terlalu keras, sehingga membuat anak-anak justru merasa tertekan atau merasa tidak bahagia. Hal inilah yang kemudian menjadikan orang tua zaman sekarang terkesan lebih ‘lembek’, cenderung ke arah terlalu memanjakan anak.

Belum lagi, ternyata masih ada beberapa orang tua yang menerapkan pola pikir zaman dulu, di mana memiliki anak laki-laki dianggap lebih baik daripada anak perempuan. Sehingga terjadi pilih kasih dan lebih menyayangi anak laki-laki daripada perempuan. Memanjakan anak sudah terbukti merupakan hal yang baik dalam mendidik anak.

Sponsored Ad

Orang tua harusnya mulai sadar bahwa mencintai dan mengasihi anak, bukan berarti harus memanjakannya secara berlebihan. Orang tua harus bisa menjadi teladan dan membimbing anak agar bisa menjalani hidup ini dengan mandiri. Memanjakan anak secara berlebihan bisa berdampak buruk pada tumbuh kembang dan masa depannya. Contohnya seperti curhatan ibu satu ini…

Sponsored Ad

‘Aku sekarang ini berusia 60 tahun dan memiliki 2 orang anak, yaitu anak laki-laki dan perempuan. Saat anak laki-lakiku berusia 16 tahun, aku baru sadar bahwa selama ini aku telah salah dalam mendidiknya. Semenjak anak laki-lakiku lahir, banyak sekali teman-teman yang merasa iri padaku.

Orang-orang banyak yang iri karena aku bisa memiliki sepasang anak, yaitu anak perempuan dan juga laki-laki yang merupakan idaman kebanyakan pasangan. Sebenarnya, aku bisa memiliki anak laki-laki pun karena aku adalah tipe orang yang tidak mau kalah.

Sponsored Ad

Saat aku tengah membangun rumah, orang sekitar mengatakan padaku bahwa percuma memiliki rumah yang bagus, karena pada akhirnya anak perempuan akan meninggalkan keluarga. Tidak ada gunanya membangun rumah untuk anak perempuan. Mendengar kata-kata ini, aku pun merasa sangat emosi. Maka, meskipun anak perempuanku sudah berusia 11 tahun, aku memutuskan untuk hamil lagi dan beruntung aku mendapatkan anak laki-kaki.

Setelah anak laki-lakiku lahir, aku tidak lagi mendengar cibiran dari para tetangga. Namun, sekarang aku malah menyesal dengan keputusan untuk memiliki anak lagi. Aku akui, bahwa aku adalah tipe orang yang kolot dan memiliki anak laki-laki, membuatku menjadi lebih sayang padanya. Aku pun jadi tidak peduli dengan anak perempuanku. Segalanya yang terbaik pasti aku berikan untuk anak laki-laki.

Sponsored Ad

Aku ingat anak perempuanku pernah mengatakan bahwa dirinya baru bisa menggunakan pakaian bermerk setelah dirinya lulus SMA. Baju tersebut pun ia beli sendiri menggunakan uang hasil kerja paruh waktunya. Setiap mengingat hal ini, aku merasa sangat bersalah dan aku tidak seharusnya pelit terhadap anak perempuanku sendiri.

Di mata anakku, aku adalah ibu yang sangat keras dan juga pelit. Aku tidak pernah mau mendengarkan pendapat atau keinginannya. Sampai SMP, aku tidak pernah memberikan uang jajan untuk anak perempuanku. Selain itu, ia juga sering kali tidak bisa ikut serta dalam pentas tari karena aku tidak bersedia mengeluarkan uang untuk membelikan baju pentas untuknya.

Sponsored Ad

Sebaliknya, perlakukanku terhadap anak laki-lakiku berbeda 180 derajat. Anak laki-laki adalah penerus keluarga, maka aku harus memberikan yang terbaik untuknya. Aku memasukkannya ke sekolah terbaik dan semua peralatan sekolah, baju dan sepatu yang ia gunakan adalah barang-barang yang bermerk dan berkualitas tinggi.

Aku tahu, melihat hal ini anak perempuanku merasa sangat tidak adil, hatiku pun sebenarnya bimbang, tapi semuanya tetap saja kulakukan dan lebih memilih untuk menganggap bahwa anak perempuanku tidak ada.

Sponsored Ad

Sebenarnya, aku sendiri bukanlah berasal dari keluarga kaya. Selain harus menghidupi kebutuhan anak, aku dan suami masih harus menghidupi kedua orang tua masing-masing yang sudah tua. Namun, aku masih selalu berusaha untuk ‘memuaskan’ dan selalu memanjakan anak laki-lakiku. Setelah kubelikan sepatu seharga 500 ribu, besoknya ia akan meminta dibelikan lagi sepatu yang harganya lebih mahal.

Selain itu, aku juga telah membuat anakku menjadi anak yang suka pamer dan tidak mau kalah. Padahal kondisi keluarga kami tidaklah bagus-bagus amat, tapi ia selalu merasa bahwa dirinya adalah anak orang kaya. Ia sering kali memamerkan barang-barang miliknya dan saat teman sekolah memiliki barang baru, ia akan langsung minta dibelikan barang yang sama.

Sponsored Ad

Namun, aku sekali lagi tidak peduli pada hal itu, bagiku yang terpenting adalah nilai akademis dirinya masih bagus. Lagipula aku merasa bahwa setelah dewasa nanti ia pasti akan berubah. Maka dari itu, aku juga selalu memaafkan segala kesalahannya, akut juga tidak pernah rela untuk memarahi atau memukulnya.

Setelah beberapa lama, aku benar-benar malah membesarkan anak menjadi orang yang tidak berpendidikan, tidak memiliki sopan santun, tidak bersyukur, tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah, egois dan urakan. Menginjak SMA, anak laki-lakiku jatuh ke pergaulan yang tidak sehat.

Sponsored Ad

Ia sering kali terlibat pertengkaran, bolos sekolah dan sering minum-minum hingga pulang larut malam. Hal ini akhirnya membuat ia sampai dikeluarkan dari sekolah. Walaupun begitu, aku tetap saja merasa bahwa seburuk apapun dirinya, ia tetap saja anak laki-lakiku. Aku lalu berusaha mencari koneksi untuk tetap bisa memasukkannya ke universitas ternama, namun ia lagi-lagi dikeluarkan karena kerap melanggar peraturan.

Begitu putus sekolah, ia sempat menghilang selama 6 bulan. Aku bisa menemukannya kembali karena mendapat telepon dari polisi yang mengatakan bahwa dirinya kedapatan mencuri sepeda motor bersama beberapa orang lainnya. Ia juga ternyata kedapatan memeras anak kelas 1 SD dan melakukan tindakan kekerasan yang membuat anak tersebut masuk rumah sakit. Aku harus membayar pengobatan RS sebesar 12 juta agar dirinya tidak masuk penjara. Aku kemudian memutuskan untuk memasukkannya ke sekolah militer untuk merubah sifat buruknya.

Beberapa waktu berlalu, aku merasa dirinya sudah mengalami perubahan. Ia juga mengatakan bahwa dirinya sudah berubah dan ingin benar-benar belajar dengan baik. Aku akhirnya memindahkannya ke sebuah universitas negeri. Aku pikir dia sudah benar-benar berubah, tapi nyatanya tidak.

Ia ternyata diam-diam suka meminjam uang dari teman-teman atau saudara. Uang pinjamannya ini digunakan untuk menarik perhatian gadis yang ia sukai. Setiap harinya, ia mengirimkan uang kepada gadis tersebut dan memberikan hadiah yang mahal. Kartu atm bank yang disiapkan untuk tabungannya pun sudah ia ambil tanpa sepengetahuanku. Hanya dalam waktu 3 bulan, uang di tabungan itu sudah habis 40 jutaan.

Aku benar-benar baru sadar bahwa selama ini aku telah salah mendidik anak. Aku menutup diri pada anak perempuanku dan malah tidak menjadikan anak laki-lakiku sebagai laki-laki yang seharusnya. Memang, setiap orang tua yang memanjakan anak tidak akan pernah mengakui bahwa dirinya memanjakan anak. Namun, aku berharap agar semua orang tua mau cepat sadar, jangan sampai terlambat seperti yang aku alami ini. Jika sudah terlambat, menyesal pun tidak ada gunanya…’

Memang penelitian menunjukkan bahwa anak usia 3-6 tahun adalah masa penting di mana orang tua harus benar-benar menanamkan nilai-nilai yang baik pada anak. Jangan biarkan anak-anak tumbuh dengan kebiasaan-kebiasaan buruk. Jika sudah terlalu dimanjakan, lewat dari usia 6 tahun, sudah sangat sulit mengubah kebiasaan buruk tersebut.

Maka dari itu, orang tua harus benar-benar paham bahwa bentuk kasih sayang orangtua kepada anak bukan berarti harus menuruti semua keinginan anak, ada batasan-batasan tertentu di mana orang tua tidak harus terlalu memanjakan anak. kita sebagai orangtua sebaiknya selalu mengoreksi diri juga. Jangan sampai menyesal nantinya.

 

Sumber: Toutiao