Ibu Mertua "Memandang Rendah" Karena Aku dari Desa.Tahu Aku "Siapa", Ia Malu!

Aku adalah gadis desa, aku punya banyak adik dan kakak. Kedua orangtuaku bekerja sebagai petani, sehingga perekonomian keluarga kami pun tidak begitu baik

(foto: ilustrasi)

Karena kami miskin, belum lulus SMP aku sudah pergi mencari pekerjaan. Dimana pada zaman itu perdagangan luar negeri sedang heboh, sehingga aku pun berusaha masuk ke bisnis perdagangan luar negeri, aku bekerja selama bertahun-tahun hingga akhirnya menghasilkan cukup banyak uang

(foto: ilustrasi)

Setelah merasa cukup aku memberanikan diri untuk membuka perusahaan perdagangan luar negeri sendiri, yang dirancang memang untuk pasar luar negeri. Dari perusahaan kecil, akhirnya berkembang hingga aku bisa membeli mobil dan rumah di kota. Aku pun membawa seluruh keluargaku, ayah, ibu, adik, kakak untuk tinggal di kota bersamaku

(foto: ilustrasi)

Tahun ini aku sudah berusia 30 tahun, sudah hampir 15 tahun aku berbisnis dan tidak pernah peduli dengan yang namanya pernikahan. Hal itu membuat ayah dan ibuku merasa khawatir

Karena omongan orangtuaku, akhirnya aku mulai berpikir dan memperhatikan pria di sekitarku. Pada saat itu aku melihat Edi, seorang pemuda yang bekerja di salah satu departemen di perusahaan kami. Aku merasa ia adalah pria yang jujur dan baik, sehingga aku pun berinisiatif untuk mengejarnya terlebih dahulu. Tak butuh waktu lama untukku dekat dengannya, hingga kami memutuskan untuk menikah

(foto: ilustrasi)

Sebenarnya, Edi adalah warga negara asing. Pada saat pernikahan kami, ibunya tidak bisa datang dan kami hanya berbicara melalui telepon

6 bulan berlalu setelah pernikahan kami adalah tahun baru, dan saat itu aku dan Edi pergi berkunjung ke rumah ibunya, yang tak lain adalah ibu mertuaku

(foto: ilustrasi)

Ibu mertua yang tahu aku adalah gadis desa, selalu berusaha merendahkanku. Saat ada tetangga yang bertanya, ia akan buru-buru menjawab dan mengatakan bahwa aku adalah gadis desa yang hanya lulusan SD

Aku merasa geram dengan sikap ibu mertua yang merendahkanku, namun Edi menyuruhku untuk tidak menghiraukannya

Ibu mertua memandang rendahku karena ia menganggap aku tidak memiliki latar belakang yang baik, tidak memiliki budaya, dan tidak pantas bersanding dengan anaknya yang lulusan kuliah universitas ternama

(foto: ilustrasi)

Sebenarnya aku tahu bahwa sebelumnya Edi telah dikenalkan dengan seorang gadis kota, hanya saja ia menolaknya

(foto: ilustrasi)

Saat makan malam, adik perempuan Edi, Diana yang juga bekerja di perusahaanku pun datang. Ibu mertuaku langsung menyuruhku berdiri untuk memberikan tempat duduk kepada Diana. Aku yang kesal pun pura-pura tidak mendengarnya. Sedangkan Diana yang mengenalku, langsung menyapaku "bos!"

Ternyata selama ini ibu mertuaku tidak tahu bahwa aku adalah pemilik perusahaan anaknya bekerja. Sejak ia tahu, sikapnya yang dingin langsung berubah 180 derajat! Sampai-sampai membuatku merasa tidak nyaman

(foto: ilustrasi)

Aku tahu bahwa orangtua menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya, namun aku merasa ibu mertuaku benar-benar keterlaluan. Untung saja Edi begitu mencintaiku dan aku juga tidak perlu sering-sering bertemu dengan ibunya

Tulisan dan gambar yang ditampilkan dalam artikel ini hanyalah fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.

Sumber: 17moveon