Anak "Curi Tisu" di Resto, Bukannya Marahi, Ibunya Malah Bawa Anak Beli Permen!?

Suatu hari saat sedang bertelepon di jalanan, tiba-tiba terdengar percakapan sepasang ibu anak di depan restoran. Cara pengajaran ibu itu membuat hatiku tersentuh dan bergejolak.

Sponsored Ad

"Ibu habiskan minumanmu, kamu merasa senang tidak?"
"Tidak senang!" kata bocah laki-laki itu sambil berurai air mata.

"Kamu tadi mencabut tisu di toilet restoran sampai habis. Kalau pemilik restoran tahu, ia pasti akan memarahi bibi pembersih toilet dan memotong gajinya. Dia merasa senang tidak?"

"Tidak senang!" kata bocah laki-laki itu sambil memerah malu, tak berani memandang ibunya.

Sponsored Ad

Saat itu, seperti sulap saja, ibu itu langsung mengeluarkan segelas minuman.

"Ibu tidak seharusnya menghabiskan minumanmu tanpa izinmu. Ibu minta maaf padamu dan membelikan minuman baru untukmu. Tapi bagaimana dengan bibi pembersih?"

"Ibu, adek juga tidak tahu!" bocah laki-laki itu tidak tahu harus bagaimana, kebingungan sambil memelintir sudut kaos ibunya.

"Ibu yakin kamu bisa memikirkan cara yang baik, ayo coba pikirkan.."

Sponsored Ad

Setelah berpikir sejenak, anak itu pun akhirnya mencetuskan idenya, "Ibu, adek kasih permen kesukaan adek untuk bibi gimana?"

Sponsored Ad

Ibu itu tertegun sesaat. Jelas sekali ini bukan cara minta maaf  yang cocok.

Mungkin karena ibu itu ingin mendukung tindakan positif anaknya, ibu itu lalu menuju toko terdekat dan membeli sebungkus permen.

"Kalau gitu, ibu tunggu kamu di luar. Kalau mereka nggak mau sebungkus permen ini, ibu akan bantu kamu ganti rugi dengan uang. Semangat yah nak!"

Anak itu pun menganggukkan kepalanya dan masuk.

Sponsored Ad

Karena penasaran, aku pun mengikuti anak itu masuk ke restoran. Saat itu adalah jam makan malam, suasana sangat ramai dan sibuk. Setiap kali anak itu ingin berbicara, pasti tertelan oleh suara hiruk pikuk keramaian. Tangannya yang kecil mencoba mengacungkan permennya, namun tetap tidak ada yang menerimanya. Anak itu pun menangis.

Sponsored Ad

Ibu dari anak itu hanya menunggu di luar pintu dan melihat dengan tenang. Mungkin menurut dia, anak yang berbuat salah harus bertanggung jawab atas kesalahannya secara maksimal.

Karena tangisannya itulah, pemilik restoran pun keluar dan menghampiri anak itu.

"Ada apa nak?" tanya pemilik restoran dengan ramah.

"Paman, tadi saya mencabut tisu di toilet sampai habis dan memasukkannya ke tas sekolahku." Sambil terisak-isak, anak itu membuka tas yang ditentengnya dan didalamnya terdapat banyak gumpalan tisu.

Sponsored Ad

Pemilik restoran terkejut dan tidak tahu harus mengucapkan apa.

Sponsored Ad

"Sekarang saya sudah tahu kalau saya salah. Tolong jangan marahi bibi pembersih toilet. Ibuku bilang bibi pembersih toilet akan bersedih. Ibu belikan saya sebungkus permen kesukaanku, saya berikan permen ini untuk kalian yah? Saya minta maaf... Ibu bilang ganti rugi pakai uang juga boleh.."

Sponsored Ad

Pemilik restoran kemudian menoleh ke arah luar, melihat seorang wanita dan akhirnya tahu apa yang sedang terjadi. Sambil berjongkok, pemilik restoran pun berkata, "Baiklah, permintaan maafmu diterima. Kami memaafkanmu! Tapi lain kali jangan ambil tisu sebanyak ini lagi yah!"


Anak laki-laki itu tersenyum lega dan berkata, "Terima kasih." 

Dengan tersenyum lebar ia pun mencari ibunya. "Ibu, uang untuk permen itu biar adek yang bayar..!"

Pendidikan orang tua berdampak besar pada pembentukan sifat dan karakter anak. Orang tua yang berkarakter baik, yang mengajar anak dengan sabar, akan membantu anak berkembang menjadi pribadi yang lebih positif. Orang tua yang hanya menggunakan alasan "dia masih anak-anak" dan tidak mengajari anak hal yang sepatutnya, maka anak itu pasti akan tumbuh menjadi anak yang "kurang ajar". Sedangkan perlindungan orang tua yang terlalu berlebihan akan membuat anak kehilangan kemampuan untuk menyelesaikan masalah.

Dalam proses perkembangan karakter anak, arahan positif dari orang tua sangatlah penting. Saat anak berbuat salah, sebagian besar orang tua akan menggunakan cara "memarahi" agar anak tidak mengulangi perbuatannya lagi. Namun cara itu sebenarnya tidak mengajari anak untuk bertanggung jawab atas kesalahannya.

Berikan anak arahan agar ia tahu dimana letak kesalahannya, biarkan anak memikirkan cara untuk memperbaiki kesalahannya itu sendiri. Cara ini akan membuat anak menjadi lebih bertanggung jawab dan tidak takut berinteraksi dengan orang asing.

Semoga bermanfaat!

Sumber: micelle

Kamu Mungkin Suka