Selalu Juara 23 di Kelas, Tapi Putrinya Dipuji Jadi "Pahlawan" di Kelas! Ini Rahasia Sederhananya!

Putriku, sudah masuk ke SMP cukup ternama di daerahku. Dia punya panggilan yang sangat terkenal, yaitu 23!

Sponsored Ad

Total murid di kelasnya ada 50 orang, dan setiap kali ujian, putriku pasti juara 23, gak heran kalau lama - kelamaan teman - temannya kasih panggilan tersebut. Sebagai orangtua, kami merasa panggilan itu seperti menyindir, tapi bagi putri kami, hal itu membanggakan! Itu yang kami pusing.


1 hari ketika lagi acara kantoran, semua rekan kerja masing - masing "memamerkan" anak mereka. Entah keahlian di sekolahnya apa, juara berapa, ikut lomba apa, dan aku melihat anaku yang dipanggil 23, apa yang perlu dibanggakan?

Sponsored Ad

Ketika pulang ke rumah, suamiku langsung nyinyir di depan putriku,"Nak, kenapa kamu gak "sedewa" anak - anak yang lain sih?", namun jawaban putri kami bikin dia terdiam,"Karna papa juga bukan dewa". Aku hanya bisa ketawa geli...

Sponsored Ad

Hari raya lagi, semua orang berkumpul lagi, namun kali ini bareng anak - anaknya semua. Semuanya bercerita ria, saling tertawa, sampai ada 1 om yang nanya ke adik kecil,"Nak nanti besar mau jadi apa?"

Jawaban anak - anak itu bervariasi! Ada yang mau jadi dokter, perawat, artis, manager, semuanya berasanya SPEKTAKULER! Tinggal 1 anak yang belum jawab, putri kami

Akhirnya dia menjawab dengan santai,"Besar nanti, prioritas nomor 1 aku jadi guru TK. Ngajarin anak - anak nyanyi, terus menari". Dengan senyum canggung, semuanya beri tepuk tangan. Lanjut putri kami lagi,"Nomor 2nya, aku mau jadi seorang ibu, bisa pakai dress santai, masak makan malam untuk suami, terus ceritain cerita sebelum tidur ke anak, kalau bisa sambil lihat bintang - bintang."

Sponsored Ad

Semuanya langsung bingung, dan mungkin dalam hati mereka,"Cita - cita macam apa itu?". Benar, suasana canggung sekali waktu itu!

Sponsored Ad

Kami pun tidak membiarkan ini terjadi. Segala cara kami usahakan, dari les, datangin guru pembimbing, beli buku ilmu pengetahuan, dll.

Putri kami cukup mengerti apa maksud kami, dia pun berhenti baca komik kesukaannya, kalau Weekend gak tidur sampai siang lagi, seperti seekor burung kecil yang kelelahan, dia setiap hari bikin PR terus dan buku - buku yang kita beli. 

Namanya anak kecil, daya tahan tubuhnya masih belum kuat, satu hari dia s4k1t dan harus di0pn4m3 di RS. Kami merasa bersalah karna terlalu memaksa dia, akhirnya suamiku memutuskan, biarlah dia menjadi apa yang dia mau, kamilah sebagai orangtua harus terima nasib.

Sponsored Ad

Satu hari, bersama teman kantor juga, kami berencana piknik ke atas gunung dengan menginap di alam, atau yang disebut dengan camping.

Sponsored Ad

Tentu saja 1 keluarga bersama anak - anak mereka juga. hari yang menyenangkan bukan? Kami masak bareng, lari ke sana ke sini, bersama anak - anak menikmati alam terbuka.

Sampai 1 kejadian, dua anak cowok rekan kerja aku, cekcok karna tidak mau membagi kue yang mereka sukai. Masing - masing tidak ada yang mau mengalah! Sampai putri kami pakai cara lempar koin, siapa yang kalah, dia yang dapat semua kuenya dan itu berhasil!

Sewaktu perjalanan pulang, lalu lintas macet total dan anak - anak di mobil pada rewel bosen, pengen turun dll, saat seperti ini putri kami yang menenangkan mereka. Dia ambil kertas berwarna - warna dari bungkusan snack yang kita makan tadi, terus diguntingnya jadi shio - shio setiap anak - anak itu. Sampai menggungting sambil bercanda, dan anak - anak yang rewel tadi pun akhirnya ikut terbawa suasana hangat oleh putri kami.

Sponsored Ad

Teman - teman kantorku cukup kaget, bagaimana bisa sih seorang anak kecil cewek bisa dengan gampang menenangkan anak -anak ini? Padahal di rumah pun mereka tidak akan pernah setenang ini? Aku hanya diam dan tersenyum.

Sponsored Ad

Akhir semester pun tiba, aku tiba- tiba ditelepon oleh wali kelas putri kami. 

Katanya,"Ibu Bapak, selamat putri anda naik kelas, meskipun tetap sama, juara 23, tapi ada hal yang cukup membuat aku kaget! Selama aku menjadi guru 30 tahun lebih, ini kali pertamanya aku melihat pengalaman seperti ini dengan mata kepalaku sendiri."

Aku dan suami merinding, apa gerangan yang terjadi?

Lanjut wali kelas,"di salah satu pertanyaan ujian terakhir kami, ada pertanyaan [Siapa orang yang paling kamu senangi di kelas ini? Tuliskan alasanmu!], selain putri bapak ibu, sisanya menulis namanya!". Kami melongo tak percaya! "Alasannya macam - macam, suka menghibur, tidak pemarah, jarang mengejek orang, suka beri motivasi, suka bantu orang, dan mereka semua setuju kalau di kelas yang baru nanti, putri bapak ibu jadi ketua kelas. Memang nilainya tidak sebagus yang lain, tapi bapak ibu, kalian sudah berhasil melahirkan seorang pemimpin baru di dunia ini!"

Suamiku, langsung berderai air mata, merasa bersalah karna selama ini hanya memandang putrinya dari nilai saja! 

Pulang ke rumah, aku kabari putriku kalau dia naik kelas! Dia senang kegirangan... Suamiku peluk dia dan cium dia sembari berkata,"Teman - teman di kelas bilang kamu tuh pahlawan mereka lho!" Dengan santai dia menjawab,"Ah gak mau, kalau pahlawan kan biasanya harus diberikan sorak tepuk tangan di kiri kanannya, nah aku mau jadi orang yang kasih tepuk tangan itu aja..."

Kerendahan hatinya, keinginan ingin menolong orang lain, tidak lain dia pelajari dari sikap papa mamanya di rumah.

Membuat seorang anak menjadi sukses, bukan tergantung dari nilai, melainkan dari bagaimana orangtua memberikan dan mendukung bakat dan passion anak kita ke arah yang benar! Ketika anak kita tidak mampu mengikuti pelajaran sekolah, biarlah, kuatkan dia di bidang yang memang dia bisa!


Ikan tidak bisa berjalan di darat, begitu juga monyet tidak bisa hidup di dalam laut! Setiap anak itu unik bukan? 

Untuk menjadikan seorang anak itu sukses kelaknya, biarlah mereka tumbuh besar dengan lingkungan yang baik, tidak memaksakan kehendak orangtua ke anak, melainkan pujilah dia, dukunglah dia sebagaimana dirinya. Semoga Bermanfaat!