​Ketemu "Mantan Suami" di Reuni, Aku Nangis Lihat "Wanita Ini" Turun dari Mobilnya!

Sebelum kamu membaca ceritaku, aku ingin berpesan padamu satu hal! Hargailah orang yang berlaku baik terhadapmu, karena suatu hari kamu akan menyesal telah membuatnya pergi!

Sponsored Ad

Namaku Yophie. Tahun ini aku 32. Aku bercerai 2 tahun yang lalu. Banyak orang suruh aku menikah lagi selagi masih belum ketuaan. Aku juga sudah berkali-kali kenalan sama cowok, tapi tidak ada yang cocok. Semakin ke sini, aku semakin teringat sama mantan suamiku. Aku jadi membanding-bandingkan mereka dengannya. Semakin aku bandingkan, semakin aku sadar suamiku dulu benar-benar baik!

"Bercerai dengannya adalah keputusan terbodoh yang pernah aku buat."

Sponsored Ad

Dulu kita sama-sama kuliah di satu universitas. Kita juga sama-sama cari kerja dan merantau di kota yang sama. Jauh dari orang tua, kita sama-sama saling mengandalkan, saling menjaga dan saling mendukung.

Waktu itu kita baru saja lulus, gaji belum seberapa, tapi setiap kali kencan, dia pasti selalu yang bayar. Dia juga sering belikan aku barang. Kadang untuk makan sendiri saja hemat-hemat demi belikan aku tas.

Sponsored Ad

Habis kita menikah, dia gak pernah suruh aku kerja pekerjaan rumah, malah dia yang kerjakan. Aku bilang aku tidak ingin punya anak, tapi dia yang anak satu-satunya di keluarga setuju. Aku bilang aku sakit, dia cuti demi jagain aku. Aku suruh berhenti mer0k0k, dia berhenti.

Sponsored Ad

Dia selalu saja menurut dan mengalah padaku. Lama kelamaan, aku jadi semakin egois. Aku sama sekali tidak pernah memikirkan perasaannya. Aku jadi merasa kebaikannya adalah hal lazim. Sekali tidak dituruti, aku bakal marah dan tidak mau berbicara dengannya.

Sponsored Ad

Aku sendiri juga yang memutuskan untuk cerai atas keegoisanku. Aku pikir dia akan takut. Aku pikir dia akan kembali. Tapi aku salah besar.

Waktu aku minta cerai, dia langsung bilang oke. Dia sama sekali tidak menolak. Barang-barang yang dia berikan padaku tidak dia ambil, suruh aku yang simpan. Dia juga minta maaf karena belum bisa jadi suami yang baik untukku.

Sponsored Ad

Aku sama sekali gak menyangka dia bakal setuju. Aku cuma pura-pura. Aku cuma ingin mengetes sampai mana kesabarannya. Tapi ternyata dia juga sudah capek. Selama ini dia sudah sangat bersabar. Semua ini salahku yang masih kayak anak kecil, maunya dituruti, tidak tahu menghargai, tidak tahu mencintai. Setiap kali kita berantem, aku selalu mau menang sendiri.

Sekarang dia sudah tidak perlu lagi menghadapi anak kecil yang gak pengertian sepertiku. Jujur, aku masih selalu berharap suatu hari dia akan kembali padaku. Tapi hari demi hari, tahun demi tahun, dia tak pernah datang mencariku. Aku baru sadar kalau kita mungkin memang sudah tidak bisa kembali lagi.

Sponsored Ad

Bulan kemarin, aku pergi ke acara reuni teman-teman di kampus dulu. Aku tahu dia bakal datang. Aku pakai baju terbagus di lemariku, makeup secantik mungkin dan pasang senyuman seindah mungkin. Aku berharap, ketika melihatku, ia akan terkenang masa-masa indah kita dulu dan berpikiran untuk kembali padaku.

Sponsored Ad

Begitu duduk di restoran, aku lihat temanku satu per satu bawa pasangannya. Muka mereka tampak bahagia. Aku duduk di sana sendirian. Andai kita juga seperti itu. Tanpa disadari, air mataku menetes. Tiba-tiba, aku merasa ada sepasang mata terus memandang ke arahku. Begitu aku menoleh, dia duduk di sampingku!

Sponsored Ad

Aku kaget dan langsung reflek memeluknya! Aku sudah rindu sekali sampai tidak bisa mengontrol diri sendiri! Akhirnya kita bertemu lagi! Apa ini semua mimpi!? Tapi begitu aku peluk, dia langsung melepaskan tanganku. Aku malu dan meminta maaf karena terlalu emosional. Tampaknya sekarang aku pun sudah tidak punya hak untuk memeluk ataupun memegang tangannya lagi.

Melihat kursi di sebelahnya kosong, aku mulai berharap, "Apa jangan-jangan dia masih sendiri? Apa kita masih punya harapan?" Tak lama setelah itu, handphone-nya berdering. Aku dengar suara wanita di telepon dan dia berkata pada wanita itu, "Oke, aku keluar sekarang."

Begitu dia beranjak, aku langsung menoleh keluar lewat jendela. Ada mobil parkir di depan dan dia buka pintunya. Di sanalah, aku melihat seorang wanita cantik turun dari mobil dan mereka berpelukan, cipika cipiki. Habis itu mereka jalan masuk ke restoran sambil bergandengan tangan.

Sebelum mereka sampai di mejaku, aku sudah beranjak duluan dan keluar lewat pintu belakang. Aku tidak ingin dia dan wanita itu melihatku menangis gak karuan. Hari ini, hatiku benar-benar membeku. Cinta pertamaku juga pria yang pernah menjadi milikku… selamat tinggal…

Kita cenderung tidak menghargai dan tidak mensyukuri apa yang kita miliki sampai kita kehilangan barang itu. Jangan sampai teman-teman semua melakukan kesalahan seperti yang kulakukan!

*Gambar hanya berupa ilustrasi

Sumber: pretties

Kamu Mungkin Suka