Pilih Pria MISKIN Itu "Tak Masalah". Yang Bermasalah Itu Pria yang "Begini"!

Anak perempuan Bambang yang bernama Indah sangatlah cantik rupanya. Begitu banyak pria yang mendekatinya dengan berbagai cara. Ajak makan lah, nonton bioskop lah, dan sebagainya. Namun Indah memilih pasangannya dengan sangat hati-hati dan penuh pertimbangan. 

Sponsored Ad

Bambang sempat memberikan saran kepada putrinya dalam memilih pasangan. Bagi Bambang, perekonomian pasangan bukanlah yang terpenting. Yang paling penting adalah apakah pria tersebut punya "pemikiran orang miskin".

Seorang wanita boleh menikah dengan pria "miskin", tapi tidak boleh menikah dengan pria yang punya "pemikiran orang miskin" atau "berhati miskin" (poor thinking).

Sponsored Ad

1.Pria yang punya "pemikiran orang miskin" suka berimajinasi dan tidak mau bekerja dari bawah

Pria seperti ini banyak sekali ditemui Bambang. Contohnya adalah putri rekan kerjanya yang bernama Desi. Nama suami Desi adalah Chandra. Perekonomian keluarga Chandra tidaklah bagus. Namun tanpa mempedulikan pertentangan orangtuanya, Desi tetap memilih menikah dengan Chandra. Desi yakin bahwa Chandra akan sukses suatu hari nanti.

Sponsored Ad

Saat baru menikah Chandra sempat berjanji kepada Desi akan membahagiakan Desi, memberi Desi hidup enak. Namun setelah menikah bertahun-tahun, karir Chandra tak kunjung mengalami peningkatan. Chandra tidak mau memulai dari bawah, tidak mau menjadi karyawan! Alasannya adalah capek dan memakan waktu. Dia membuka usaha sendiri, namun tidak rela membungkukkan badannya untuk menghormati orang lain. Pada akhirnya, semua bidang usaha yang dikerjainya tidak pernah berhasil 

Sponsored Ad

Sementara itu, Desi pun harus menopang perekonomian keluarga, dan juga masih harus memberi makan orang tua dari kedua pihak. Belum lagi pengeluaran untuk pendidikan anak dan makanan. Perlahan demi perlahan, Desi semakin terperosok masuk ke dalam tekanan hidup.

Janji-janji yang diberikan suaminya seperti mimpi yang sulit diraih. Kekecewaan demi kekecewaan mulai muncul di pikiran Desi. Pertengkaran dan peran9 dingin pun mulai sering terjadi dalam rumah tangga mereka. Sedalam apapun cinta, sulit sekali menghadapi cobaan dari "realita" kehidupan.

Sponsored Ad

Bambang pun memberitahu Indah bahwa pria seperti Chandra punya banyak mimpi untuk sukses, namun ia tidak mau memulai dari bawah secara pelan-pelan. Dia hanya ingin kesuksesan secara instan, dan hal ini tidak mungkin terjadi. Kesuksesan bukanlah seperti mie instan yang hanya perlu diseduh 3 menit saja. Pria seperti ini tidak akan mampu memberikan masa depan untuk wanita.


Pria boleh miskin, namun harus berani berjuang, harus berani hidup susah. Pria seperti inilah yang akan berhasil.

Sponsored Ad

2.Pria yang punya "pemikiran orang miskin" hanya tahu berhemat, tapi tidak tahu bagaimana menghasilkan uang.

Sponsored Ad

Ada satu jenis pria yang menjalani hidup susah sehingga terbiasa untuk hidup hemat. Hal ini sebenarnya bukanlah kekurangan, namun seorang pria yang hanya bisa menghemat dan tidak bisa menghasilkan uang akan berdampak besar pada hidupnya.

Keponakan Bambang, Fani menikah dengan teman kuliahnya William. Mereka berdua berpacaran sejak kuliah dan saling mencintai. Setelah lulus kuliah, keduanya pun memutuskan untuk menikah. 

Uang kuliah William adalah hasil pinjaman dari ibunya. Tahu akan kondisi perekonomian keluarganya, William yang pengertian pun sangat berhemat. Setelah menikah, tak pernah sekalipun ia membeli baju baru atau hadiah untuk istrinya Fani. Terkadang saat Fani ingin makan di restoran luar, William akan menyalahkannya dan mengatainya boros. Karena konsep keuangan yang berbeda, keduanya menjadi sering bertengkar dan tidak semesra dulu lagi.

Sponsored Ad

William yang baru lulus kuliah bekerja sebagai karyawan biasa di perusahaan kecil. Walau tak pernah mendapat kesempatan naik jabatan, William juga tak pernah berpikir untuk pindah kerjaan karena takut keluar dari zona aman. Fani merasa sangat kecewa terhadap William dan juga pernikahannya ini. Untuk beli baju saja, dia harus memikirkan suaminya dulu karena hal ini akan menyebabkan pertengkaran. Ia harus memprioritaskan "hemat" dalam setiap aspek kehidupan. Ia tidak bisa membeli baju kesukaannya, tidak bisa jalan-jalan, bahkan jajan bakso saja sulit...

Sponsored Ad

Sedangkan William yang tidak berani pindah kerjaan, kini masa depannya tidak jelas. Ia hanya memilih berjalan di tempat dan tidak berani mengubah kondisi ini. Karena itulah, William terus berhemat dan berharap penghematannya ini dapat merubah kondisi hidupnya. Kenyataannya malah sebaliknya, ia malah semakin hemat semakin miskin. Teman-temannya pun mulai menjauh darinya dan tidak mau berteman dengannya.

Melalui cerita Fani dan William, Bambang ingin mengingatkan Indah tentang kewaspadaan dalam memilih pasangan. Seorang pria yang hanya bisa berhemat tidak akan bisa memberikan masa depan untuk wanita. Berhemat tentu saja hal yang baik, namun kita juga harus tahu cara menghasilkan uang, cara melipatgandakan uang. Berhemat uang tanpa berusaha menghasilkan uang hanya akan menyia-nyiakan waktu dan umur.

3.Pria yang punya "pemikiran orang miskin" suka mengeluh, tidak tahu bagaimana memanfaatkan kesempatan.

Pria yang suka mengeluh hanya bisa terpaku pada "rintangan" yang ada didepannya dan tidak bisa melihat kesempatan emas yang ada disekelilingnya. 


Bambang pun menceritakan kisah dari temannya. Teman baiknya punya seorang anak perempuan bernama Ellen. Ellen menikah dengan suami yang biasa-biasa saja. Setelah menikah, keduanya berjanji untuk berjuang bersama. Namun lambat laun, Ellen mulai sadar bahwa suaminya hanya bisa mengeluh ketidak adilan dunia ini terhadapnya. Suaminya merasa dirinya mampu dan lebih baik dari yang lain, ia tidak rela bekerja demi orang lain dan menjadi bawahan.

Pada suatu kali suaminya mendapat kesempatan untuk ikut pelatihan di luar negeri. Ellen pun terus mendesak dan mendukung suaminya untuk ikut pelatihan. Siapa sangka suaminya menolak dan berkata, "Banyak orang pintar yang ikut, aku pasti tidak bisa terpilih. Lebih baik nggak ikut."

Dalam pekerjaannya, suami Ellen tak pernah berusaha untuk memperlihatkan sisi terbaiknya. Tentu saja ia tak kunjung mendapat kenaikan jabatan. Setelah menikah 7 tahun, suaminya tak kunjung berhasil. Sedang Ellen yang membuka usaha sendiri akhirnya mencapai kesuksesan tertentu. Jarak antara dirinya dan suami semakin besar dan jauh. Ellen mulai tidak suka ngobrol dengan suami karena suaminya terlalu sering mengeluh. Orang yang tidak berusaha meningkatkan diri tidak mungkin berhasil. Orang yang tidak memperjuangkan kesempatan tidak mungkin bisa mengubah kondisi menjadi lebih baik.


Seorang pria yang membenci ketidakadilan dunia, namun tidak "bertindak" untuk mengubahnya, itu adalah "pemikiran orang miskin". Orang kaya bisa melihat kesempatan untuk mengubah hidup, sedang orang miskin melihat banyak rintangan dan tidak berani melangkah, hanya mau tetap berjalan di tempat, dan tak hentinya mengeluh.


4.Pria yang punya "pemikiran orang miskin" itu kolot, tidak mau mengikuti zaman dan tidak mau beradaptasi

Saat membawa putrinya menghadiri pernikahan, Bambang bertemu dengan temannya Tina. Tina pun menceritakan kisah rumah tangganya yang tak bahagia. Tina adalah rekan kerja Bambang bertahun-tahun lalu. Setelah menikah, Tina pun mengundurkan diri dan menjadi ibu rumah tangga full time. Ia tidak mengharapkan apa-apa, yang diharapkannya hanyalah sandaran yang kokoh sampai masa tua nanti.

Tina sangat suka pergi ke konser mendengar musik. Awalnya suami akan menemaninya untuk mendengar konser. Namun lama kelamaan, sikap suaminya pun berubah. Suaminya lebih memilih tidur bermalas-malasan di rumah dengan beralasan konser musik tidak menarik. 

Terkadang, Tina juga mengajak suaminya ikut makan-makan bersama teman-temannya. Namun sepulangnya dari acara, suami akan mengeluh dan tak hentinya mengatakan, "Aku nggak kenal temanmu. Lain kali aku nggak mau ikut lagi."

Suaminya tidak mau mengenal lebih banyak orang lagi, tak berniat memperluas komunitasnya. Selain bekerja, suaminya tidak ada kehidupan lain lagi. Tina merasa kehidupan suaminya sungguh membosankan. Mereka berdua hidup bersama namun tidak punya teman yang sama, tidak punya topik pembicaraan yang sama. Yang paling parah, suaminya juga tak berniat untuk memperbaiki masalah ini.

Bambang pun menasehati putrinya untuk tidak memilih pria seperti itu. "Pria yang tidak mampu belajar sangatlah membosankan. Mereka tidak mampu beradaptasi dan tidak mengerti bagaimana memperdekat jarak dengan wanita."

Miskin harta itu tidak apa-apa, yang penting tidak miskin dalam konsep pemikiran. Bila punya pemikiran miskin, seumur hidup pun tidak akan bisa keluar dari kemiskinan.

Dalam kehidupan kita ada kesempatan dan juga resiko. Pria yang bisa menangkap kesempatan yang ada di depan mata dan juga berani mengambil resiko pasti akan berhasil punya masa depan cemerlang. 

Dalam percintaan, kebanyakan wanita akan meletakkan "perasaannya" pada prioritas utama. Namun bila pasangan yang ingin kamu nikahi punya "pemikiran orang miskin", berhati-hatilah dan pertimbangkanlah matang-matang.

Sumber: lookforward