​90% Orang yang "Minder dan Penyendiri" Terlahir di "Keluarga Seperti Ini"! Miris Bacanya!

Peran dan bimbingan orang tua sangat penting dalam membangun karakter anak. Jangan anak jadi hidup dalam bayang-bayang seumur hidupnya hanya karena kesalahan yang dibuat orang tua semasa kecilnya!

Sponsored Ad

Anak yang tumbuh di keluarga yang penuh cinta dan kehangatan akan membuat seorang anak tumbuh besar menjadi orang yang optimis dan percaya diri. Bagaimana dengan anak-anak yang suka minder, menyendiri dan tidak suka bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya?

Sponsored Ad

Kita semua harus tahu bahwa karakter anak tidak hanya dipengaruhi oleh faktor bawaan saja, tapi juga pengaruh lingkungan, terutama keluarga.

Setiap anak terlahir bersih, polos, seperti malaikat. Anak-anak yang minder dan suka menyendiri tidaklah terbentuk dalam semalam, tetapi terbentuk sedikit demi sedikit karena pengaruh lingkungan di sekitarnya.

Sponsored Ad

Sebagian besar anak-anak yang minder dan suka menyendiri datang dari 4 macam keluarga yang seperti ini:

1.Keluarga yang sering menggunakan cara keras dalam mendidik

Cara ini mencakup fisik dan emosional. Orang tua yang terlalu keras terhadap anak dapat membuat anak merasa "ada jarak" dengan orang tua.

Ada sebuah kisah nyata. Jiang Wen, seorang aktor dan sutradara ternama asal Tiongkok bercerita, dibalik kesuksesannya, ia adalah seseorang yang sangat minder dan tidak percaya diri. Semua itu tak lain berhubungan dengan sang ibu.

Sponsored Ad

Ia ingat sekali waktu itu dia dinyatakan diterima di universitas The Central Academy of Drama, dengan sangat senang ia memberitahu ibunya, tapi ibunya malah membuang surat penerimaannya ke samping dan menyuruhnya pergi cuci baju.

Sponsored Ad

Kemudian begitu dia sukses, bisa beli rumah, dia beli rumah untuk ibunya, tapi ibunya sama sekali tidak pernah tinggal di rumah itu satu kali pun.

Dari kecil sampai besar, Jiang Wen terus berusaha menyenangkan sang ibu dan berharap mendapatkan pengakuannya. Namun, sampai ibunya wafat, ia masih tak memiliki kesempatan untuk duduk baikan dengan sang ibu. Ini menjadi penyesalan dalam hidupnya.

Mendidik anak dengan cara keras itu ibarat menancapkan paku di hati anak. Mungkin seiring waktu lukanya akan sembuh, tetapi karat yang dihasilkan dari paku tersebut akan tetap ada.

Sponsored Ad

Jika orang tua sendiri tidak bisa melihat kelebihan sang anak, cuma bisa menggunakan cara keras, tidak menghargainya, bagaimana anak bisa membangun kepercayaan dirinya?

2.Keluarga yang hematnya sampai kelewatan

Ada orang cerita:

Sponsored Ad

Saya ada teman SMA. Umurnya udah 32 tahun tapi belum pernah pacaran. Keluarganya khawatir setengah mat*.

Sebenarnya dia udah dicomblangin beberapa kali, tapi selalu gagal. Alasan utamanya adalah karena dia terlalu minder.

Ibunya adalah orang yang sangat hemat. Sejak kecil, dia tidak pernah pakai baju baru, selalu pakai baju bekas kakak-kakaknya, atau baju bekas yang dikasih orang.

Waktu kelas 5 SD, dia disuruh gurunya berpakaian bagus-bagus untuk acara sekolah. Dia pun minta ibunya belikan baju baru, tapi ibunya malah bilang, "Naik panggung cuma 2 menit, ngapain buang-buang duit?! Sana pakai baju kakakmu saja!"

Sponsored Ad

Akhirnya dia pakai baju kakaknya yang sudah model lama. Ada noda kuning yang sudah dicuci tidak bisa hilang.

Sampai sekarang, dia masih ingat tatapan mata ibu guru ketika melihatnya, juga tertawaan teman-temannya.

Meskipun sekarang dia sudah cari duit sendiri, bisa beli apapun sendiri, tapi dia tetap minder. Setiap kali ketemu cowok, dia selalu saja merasa si cowok berpikir kalau dia culun. Ketemu cowok yang disuka, dia juga gak berani ngejar karena merasa dirinya tidak sebanding dengan orang lain…

Sponsored Ad

Membiarkan anak hidup susah sedikit di masa kecil memang bisa menumbuhkan karakter kuat dan pantang menyerah pada anak. Namun jika terlalu mengekang anak, bisa jadi anak jadi minder atau terlalu mendambakan uang hingga terjerumus ke jalan yang salah.


3.Keluarga yang penuh pertengkaran

Segala bentuk pertengkaran, baik itu antara suami istri maupun dengan anak, pastinya akan membuat kepribadian anak berubah.

Ada survey di Amerika yang telah membuktikan bahwa anak yang tumbuh di lingkungan yang seperti ini akan memiliki dua kepribadian yang ekstrim.

Salah satunya adalah menjadi orang yang suka emosi, melampiaskan kekesalannya pada orang lain dan menemukan rasa aman dari rasa takut orang lain. Yang satunya lagi adalah memiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah. Bayang-bayang masa kecilnya akan selalu menghantuinya.


4.Keluarga yang jarang menemani

Ada lagi teman yang cerita:

Saya punya teman, seorang guru SMP. Dia punya murid yang suka menyendiri. Di kelas selalu sendiri, tidak bergaul sama yang lain. Suatu malam, datang telepon dari rumah sakit kalau anak itu masuk UGD, harus segera ditangani. Pihak rumah sakit sama sekali tidak bisa menghubungi kedua orang tuanya.

Dia pun langsung ke rumah sakit tanda tangan surat dan berusaha untuk menghubungi orang tuanya.

Begitu anak itu bangun, dia nangis di tempat tidur bilang, orang tuanya sibuk banget sampai sudah 2 bulan tidak pulang ke rumah.

Setiap hari di rumah kalau bukan masak indomi ya jajan di luar. Sehat atau tidak tidak ada yang tahu. Anak itu juga mungkin merasa ia tidak penting bagi orang tuanya.

Saya dengarnya pun sedih. Anak ini kurang perhatian dan kasih sayang orang tua, hingga dia tidak tahu bagaimana cara bergaul, hanya bisa menyendiri.

Anak yang kurang perhatian dari orang tua tidak hanya akan kehilangan rasa aman, tetapi juga menjadi pemalu karena tidak ada orang yang menghibur dan memberinya dorongan. Lama-kelamaan, mereka juga tidak akan berekspektasi apapun terhadap dirinya dan menjadi minder.

Mungkin kita selalu merasa, anak-anak masih kecil, masih ada banyak waktu untuk mendidiknya. Tapi jangan salah. Masa kecil itu berlalu dalam sekejap mata. Giliran kita mau menemaninya, kita baru sadar kalau ternyata anak kita sudah besar. Sudah terlambat.

Jadi, jika masih punya waktu, temanilah dan habiskan waktu bersama anak!

Semoga bermanfaat! BAGIKAN ke orang tua lainnya!

Sumber: lookingforward