Diusir Suami dan Mertua Karna Tak Kunjung Hamil, 3 Tahun Kemudian Mereka Melihatku Bahagia Karna Ini!

Entah apa salahku, sampai - sampai ibu mertuaku sangat benci kepadaku!

Sponsored Ad

Tidak hanya itu, ada efek domino yang terjadi, contohnya suamiku sendiri. Sebelum menikah, dia berjanji "Untuk Menjagaku, Melindungiku Selamanya", tapi hanya karna satu kalimat dari ibu mertua, yang belum tentu itu benar atau salah, langsung mengambil keputusan mengusirku keluar dari rumah.

Tebakanku, mungkin karna dalam 3 tahun pernikahan kita, aku tak kunjung hamil. Ibu mertuaku tak pernah suka kepadaku. Apapun yang aku lakukan, sebagaimana aku berusaha, hasilnya tetap sama saja!

Sponsored Ad

Relasi kami semakin dingin, setiap hari aku seperti dicuekin di rumah ini. Aku pernah mengeluhkan hal ini kepada suamiku, tapi karna emang pada dasarnya suamiku seorang "Mommy Boy", itu membuat dia sulit percaya dengan apa yang aku katakan dan dimata mereka, aku hanyalah seorang wanita licik yang tak tahu diuntung.

Sponsored Ad

Aku ingat satu pagi ketika aku buatin telur ceplok, ibu mertua memuntahkannya karna terlalu asin! Dia langsung mengumpat, kenapa begini aja gak bisa, kenapa gak hilang aja dari dunia ini! Suamiku pun tidak membela aku, malah ikut menyalahkan aku. Aku cukup akan semua ini! Hidup seperti ini, siapa yang mau sih!?

Sponsored Ad

Aku pergi, seperti kemauan mereka.

Bercerai dengan suamiku, seperti kemauan mertuaku.

Suamiku tampaknya tak rela, tapi buat apa kalau hati ini sudah tak ada dia lagi didalamnya? kebahagiaan seorang wanita, terletak pada dirinya sendiri.

Untung aja aku gak punya anak, kalau tidak pasti merepotkan! Kalaupun boleh, setelah bercerai, aku ngak mau lagi bertemu dengan mereka! Sekarang aku bebas dari beban berat itu, aku bersih, aku sempurna!


Aku pun memulai pekerjaanku sebagai seorang sales. Aku bertemu dengan seorang client. Pria ini sangat dewasa, mapan, dan dia pun dari keluarga yang berada.

Sponsored Ad

Seiring dengan bertambah frekuensinya kita bertemu, kami pun jatuh cinta. Tanpa banyak gombal - gombalan seperti mantan suamiku, dia lebih melakukannya dan aku melihat keseriusannya. Orangtuanya pun tidak mau mencampuri urusan aku dengannya. Kata mereka,"Kalian orang dewasa, kami juga. Biarlah urusan kalian diurusin oleh kalian. Rumah milik kalian, rumah kami, biarlah kami yang mengurusi, biar tidak ada cekcok yang tidak diinginkan." Karna kalimat itulah, aku bersedia menikah denganya dan kami bahagia! Aku pun hamil dan melahirkan anak cowok yang lucu dan gemesin, oh betapa sempurnanya hidupku sekarang!

Sponsored Ad


Hari Minggu kami sekeluarga keluar jalan - jalan bareng. Awalnya kami sangat senang, bergandengan tangan, pakai baju seragam, aku rasa setiap keluarga kecil yang lihat kami bisa iri karna kebahagiaan kami ini. Tiba - tiba, aku melihat 2 wajah yang terpana melihat kami dan wajah itu sangat tidak asing bagiku, YA! MEREKA ADALAH MANTAN SUAMI DAN MANTAN MERTUAKU!

Sponsored Ad


Suamiku bertanya apakah aku kenal dengan mereka? Aku hanya angguk iya tanpa banyak kata dan dia pun pamitan bawa anakku ke kedai kopi di seberang jalan untuk menunggu kami.

Mantan suamiku melihatku dengan mata yang iri, seakan tidak percaya dengan keberadaanku sekarang. Tanpa dia berkata - kata pun, aku tahu dia menyesali hal itu. Begitu juga dengan mantan ibu mertuaku, yang tampak marah, dan kesal, kenapa aku malah lebih bahagia. Dari penampilan mereka, terlihat kalau mantan suamiku masih belum menemukan wanita penggantiku, dan wajar, dengan dirinya yang Mommy Boy seperti itu. Dengan sikap hormat dan menghargai, aku berkata

"Saudara, ibu, aku ada hari ini, aku mau berterimakasih atas [PEMBUANGAN] yang kalian lakukan"

Setelah itu aku pergi, menuju ke kebahagiaanku yang sebenarnya, yang menantiku, yang menghargaiku, yang mencintaiku, apa adanya...


Sumber : Cerpen.co.id

Kamu Mungkin Suka