Banyak Warga Tolak Pemakaman Pasien Corona, Ahli Bongkar Soal Penularan Virus Dari Jenazah Positif Covid-19, Masih Berbahaya?

Peneliti sebut jenazah pasien Covid-19 akibat infeksi virus corona (SARS-CoV-2) berpotensi menularkan penyakit jika dimandikan. Namun, tak berbahaya apabila sudah dimakamkan.

Hal ini diungkap Peneliti Bidang Mikrobiologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Sugiyono menanggapi penolakan warga atas pemakaman pasien positif Covid-19 di wilayah mereka.

"Perlu digarisbawahi, risiko ini timbul ketika jenazah belum dimakamkan. Ketika sudah di makamkan, tidak ada lagi risiko tersebut," kata Sugiyono saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (3/4).

Sponsored Ad

Sugiyono mengatakan masyarakat sekitar tempat pemakaman tak berisiko terjangkit corona dari jenazah apabila tidak melakukan kontak langsung. Justru, ia menjelaskan yang berisiko tertular adalah orang-orang yang melakukan kontak langsung dengan jenazah.

"Yang berisiko adalah mereka yang kontak langsung dengan jenazah, misalkan yang memandikan atau membungkus jenazah. Tidak ada risiko bagi mereka yang tinggal di dekat area pemakaman," tuturnya.

Sponsored Ad

Lebih lanjut, Sugiyono menjelaskan risiko infeksi bisa ketika proses memandikan jenazah ada cairan yang keluar dari mulut ataupun anus.

"Kemudian bisa saja ada aerosol yang timbul kemudian terkena. Untuk mengurangi resiko, biasanya jenazah bahkan tidak dimandikan," lanjutnya.

Sehingga, untuk mengurangi risiko penularan, sebaiknya jenazah tidak dimandikan. Sebab, kondisi jenazah sudah terbungkus berlapis dan pembungkusnya juga didisinfeksi berulang kali. Sehingga, jenazah yang sudah terbungkus itu dinilai aman untuk dipulasarakan.

Sponsored Ad

Jenazah aman jika sudah dikubur

Sugiyono mengatakan belum ada satu pun organisme penyebab kematian massal yang bisa bertahan  lama setelah jenazah dikubur. Organisme yang ia maksud adalah organisme yang menyebabkan kematian massal di masa lalu, seperti wabah pes, kolera, tipes, hingga tuberkolosis.

"Tidak ada bukti ilmiah pula yang menyatakan bahwa organisme tersebut yang pada akhirnya dapat menginfeksi orang-orang di sekitar area pemakaman," ujarnya. Sehingga, ia menegaskan tak ada alasan bagi warga di sekitar tempat pemakaman untuk menolak pemakaman jenazah pasien corona.

Sponsored Ad

Tak cuma jenazah pasien corona, jasad orang yang meninggal akibat hal lain juga berisiko menjadi sumber penyakit akibat proses pembusukan tubuh.

Oleh karena itu, menurutnya penolakan dan penundaan pemakaman malah lebih berbahaya. Sebab, meningkatkan risiko penularan.

Virus bisa bertahan lama di tubuh manusia

Di sisi lain, Sugiyono menyatakan ada sebuah studi yang menyatakan bahwa virus HIV/AIDS bisa bertahan hingga 6 hari pada jenazah manusia.

Sponsored Ad

Selain itu, ada studi virus ebola yang bisa bertahan hingga 7 hari pada jasad monyet. Akan tetapi, Sugiyono mengatakan jenazah manusia dan jasad monyet tersebut berada di lemari pendingin, belum dimakamkan.

"Akan tetapi perlu ditekankan kembali, jasad ini dalam lemari pendingin dan belum dimakamkan. Ketika sudah dimakamkan, tidak lagi begitu," kata Sugiyono.

Oleh karena itu, kedua studi tersebut mengindikasikan bahwa pemakaman memang harus segera dilakukan setelah pasien meninggal.

"Dengan tujuan untuk menjauhkan jasad tersebut berkontak langsung dengan manusia, sekaligus untuk 'mengubur' organisme penyebab penyakitnya," ujar Sugiyono.

Sumber: Line Today

Kamu Mungkin Suka