"Syarat Penerimaan Kerja" di Jepang Haruslah Wanita Cantik? "Faktanya" Bikin Cengo!

Setiap tahun di bulan Maret, mahasiswa universitas Jepang tingkat akhir akan merayakan kelulusan mereka.


Sponsored Ad

Dan sebagian besar dari mereka sudah tahu apa yang akan mereka lakukan ketika lulus nanti.

Pertanyaannya, apakah proses pencarian kerja di Jepang dan Indonesia sama?

Di Jepang dikenal dengan istilah bernama shūkatsu yang artinya proses berburu pekerjaan. Dimana proses shūkatsu dilakukan oleh sebagian besar siswa di tahun junior mereka. Dengan cara ujian, tes online, kunjungan studi ke perusahaan, magang dan wawancara massal.


Sponsored Ad

Uniknya mahasiswa Jepang mulai mencari pekerjaan 2 tahun sebelum mereka benar-benar lulus. Makanya tak heran, banyak mahasiswa yang lebih fokus kepada kegiatan shuukatsu daripada kuliahnya itu sendiri.


Meskipun secara aktif meningkatkan kemampuan mereka, yang unik dari shūkatsu ini adalah setiap penerimaan tidak ditentukan dari nilai atau tes tertulis, melainkan dari penampilan fisik dan wajah.

Sponsored Ad


Misalnya bagi yang pria rambut harus rapi pendek, kumis janggut dicukur rapi, sepatu disemir dan berwarna hitam atau coklat.

Sponsored Ad


Sedangkan bagi yang wanita rambut diikat atau disisir, makeup sederhana dan tidak menggunakan parfum, perhiasan simple dan tidak menarik perhatian.

Sponsored Ad

Karena syaratnya penerimaan lebih melihat penampilan fisik dan wajah, tak heran banyak orang percaya jika perempuan cantik memiliki peluang lebih besar lulus wawancara.


Salah satu media Jepang melakukan wawancara kepada Hirano yang adalah perwakilan dari Institute of Employment Intelligence, dimana mereka bertanya apakah benar perempuan cantik memiliki peluang lebih besar untuk keterima kerja?


Sponsored Ad

Dalam hal ini, Hirano menjelaskan, "Meskipun tidak dapat dikatakan bahwa rumor itu salah, tapi memang "wajah"adalah tempat pertama untuk melihat kepribadian seseorang. Sebelum orang memperkenalkan dirinya, yang kita lihat adalah wajahnya terlebih dahulu”


Sponsored Ad

Hirano juga mengatakan “Dibandingkan apa yang disebut cantik atau jelek, pesan yang disampaikan dari wajah, gaya rambut, tata rias dan ekspresi memiliki pengaruh yang lebih besar. Meskipun tidak mungkin menilai seseorang dari luarnya saja, tapi dari penampilan seseorang akan terlihat cara ia menghargai sebuah wawancara”

Hirano juga menyarankan agar mahasiswa yang akan memasuki dunia kerja, boleh memfokuskan kepada penampilan yang "rapi dan bersih” daripada fokusk ke gaya makeup dan rambut.

Sponsored Ad


Orang Jepang mempercayai bahwa tanpa ekspresi, Anda mungkin merasakan ketegangan. Makanya pertahankan senyuman sesering mungkin selama wawancara. Yang paling penting adalah menunjukkan "senyum" daripada "tertawa."

Sponsored Ad


Sontak kegiatan shuukatsu memicu diskusi panas di antara netizen.

“Meskipun hal ini tidak adil, tapi sangat disayangkan masih ada kegiatan seperti ini”

“Temanku berkata bahwa tujuan lain dipilihnya perempuan cantik, karena jika ada orang-orang cantik di perusahaan, kinerja pria lain akan bekerja lebih efisien."

“Saya juga bertanggung jawab untuk merekrut karyawan baru. Tapi itu hanya berlaku di sebagian orang saja, yang terpenting adalah sikap, kualifikasi akademik, prestasi kok!”

Bagaimana menurut pendapatmu, apakah kamu setuju dengan cara kerja  shūkatsu ?

Sumber: urreply 

Kamu Mungkin Suka