Pas Kaya, Temannya Tak Henti MENJILAT. Tapi Pas Bangkrut, Temannya Langsung "HILANG!?"

Daripada mempunyai banyak teman tapi TAK BERHATI, lebih baik punya sedikit teman tapi BERHATI. Setelah membaca kisah pria ini, kamu pasti setuju.

Sponsored Ad

Raffi lahir di sebuah desa miskin. Dia punya 3 adik yang masih bersekolah. Orang tuanya hanya bermata pencaharian sebagai petani, menggantungkan hidup dari sawah yang hanya beberapa petak. Sudah 2 kali Raffi mencoba ikut tes masuk SMA, namun selalu gagal. Sadar bahwa dirinya adalah anak sulung yang masih harus membantu orang tua mencari uang, Raffi pun sambil mengusap air matanya, mengurungkan niat untuk kuliah dan memutuskan untuk pergi mengadu nasib di kota.

Sponsored Ad

Sesampainya ia di kota, Raffi pun mencari pekerjaan dengan bertanya di setiap toko yang dilewatinya. 3 hari berlalu, Raffi belum juga menemukan pekerjaan. Pendidikannya yang rendah membuat banyak bos tidak suka padanya. Saat itu juga Raffi mengalami "kejadian kecil" yang mengubah hidupnya. 

Sponsored Ad

Raffi melihat seorang anak perempuan, baru 3-4 tahun sedang berada di tengah jalan seorang diri! Raffi segera menghampiri anak itu dan menggendongnya ke tepi jalan. Saat Raffi menurunkan anak itu, tiba-tiba terlihat seorang wanita berpakaian stylish menghampiri mereka, memeluk anak itu dan mengucapkan terima kasih kepada Raffi.

Sponsored Ad

Setelah basa-basi sebentar, wanita itu pun memberikan kartu nama perusahaan kepada Raffi. Wanita itu meminta Raffi bekerja di perusahaan esok hari. Raffi gembira bukan kepalang, pagi-pagi sekali, ia pun segera melapor ke perusahaan. Perusahaan yang menerimanya itu ialah perusahaan properti. Wanita yang kemarin itu ternyata istri dari Direktur. Raffi pun tidak menyia-nyiakan kesempatan bekerja itu dan mengerahkan seluruh ide dan tenaga untuk pekerjaannya.

Sponsored Ad

3 bulan pun berlalu begitu saja. Direktur menyadari bahwa Raffi bukan saja sangat jujur, pemikiran Raffi juga sangat cerdas. Raffi yang awalnya di bagian pergudangan lalu dipindahkan ke bagian pemasaran. Dan ternyata dugaan Direktur tidak salah. Raffi dengan aktif bekerja, meminta panduan dari senior-seniornya. Dengan cepat Raffi pun menguasai teknik-teknik pemasaran yang profesional.

Sponsored Ad

Sifat jujur Raffi membuat rekan-rekan kerja juga mengaguminya. Tidak heran, dalam 2 tahun saja, Raffi berhasil naik jabatan menjadi manager pemasaran. Selain berhasil pada jenjang karir, nasib asmara Raffi juga sangat baik. Direkturnya menjodohkan ia dengan adik perempuannya. Setelah berpacaran beberapa waktu, Raffi pun menikahi adik direktur. 

Raffi yang tidak mau selamanya menjadi karyawan akhirnya memutuskan untuk kembali ke desa bersama istri, mencoba memulai bisnis dari awal. Raffi tahu bahwa desanya yang terlihat sangat miskin itu punya banyak peluang untuk berkembang. Istrinya pun mendukung dan ikut menginvestasi dalam usaha yang dijalankan Raffi. Dalam waktu 5 tahun, Raffi yang awalnya bocah miskin telah berubah menjadi bos yang punya kekayaan trilyunan.

Sponsored Ad

Saat teman-teman Raffi semasa sekolah mengetahui kesuksesan Raffi, mereka langsung mendekati Raffi kembali dan membaik-baikinya. Mereka sering mencari Raffi dengan alasan "reuni" dan meminta pertolongannya. Raffi yang dari dulu baik hati tidak pernah berubah. Ia tak bisa menolak permohonan teman-temannya dan sering menolong. Bahkan dalam setiap pertemuan, Raffi lah yang membayar biaya makan dan tempat.

Sponsored Ad

Raffi merasa sangat senang bisa membantu, dan teman-temannya pun tidak sungkan lagi meminta pertolongan dan terus "menjilat"nya. Mereka sering berkata, "Kalau kamu kesulitan, kami pasti akan bantu! Nggak perlu sungkan!"

Sponsored Ad

Raffi pun merasa terharu akan sikap teman-temannya ini, merasa bahwa dirinya telah menemukan teman sejati. 

Tak disangka, setengah tahun lalu, di grup chatting mereka tiba-tiba ada orang yang mengatakan bahwa Raffi sudah bangkrut. Teman-temannya awalnya tidak percaya, namun setelah beberapa kali Raffi tidak hadir di pertemuan, dan setelah beberapa kali melihat Raffi makan di stand tepi jalan, teman-temannya pun mulai percaya. Dalam sekejap mata, grup chatting yang selalu ramai kini diam hening berminggu-minggu.

Sebulan, dua bulan pun berlalu. Hari ulang tahun sekolah telah tiba, dan Raffi dulu sempat mengatakan bahwa ia akan mengadakan reuni besar-besaran. Saat ia menulis alamat lokasi reuni di grup, teman-temannya satu persatu beralasan tidak bisa datang. Semuanya ketakutan kalau Raffi akan meminta pertolongan, meminjam uang dari mereka saat reuni!

Raffi tentu saja tidak kehabisan akal. Ia kemudian mengirim pesan di grup menulis bahwa ia ingin meminjam uang. Siapa sangka, teman-temannya yang dulu menyebut-nyebut "teman sejati bagai saudara", satu persatu keluar dari grup, dan ada juga yang langsung memBLOCK Raffi.

Raffi yang mendapat respon negatif dari teman-temannya merasa sangat sedih. Dulu pas lagi kaya, mereka yang nyari-nyari dan bilang kita saudara! Sekarang pas lagi butuh uang, mereka menghilang! 
Saat sedang memikirkan kekecewaannya ini, tiba-tiba ponselnya berdering. 

"Halo.."
"Halo, ini Raffi kan? Gua Leo"

"Oh Leo, ada apa yah?"
"Gua denger lu lagi butuh duit? Dulu lu sempet bantuin gua, gua sudah nunggu-nunggu kesempatan untuk ngebalas budi elo.. Lu butuh berapa?"

Raffi merasa kaget sampai tidak bisa berkata apa-apa. Leo???! Leo tidak dekat dengannya sama sekali. Dulu Raffi memang pernah membantu Leo, namun tak disangka Leo masih mengingatnya. Setelah Raffi mengatakan nominalnya, Leo langsung berkata bahwa ia akan memberikannya pada Raffi di lokasi reuni. 

Saat menerima selembar kartu ATM dari Leo, tangan Raffi sudah gemetar tak tertahankan. Di dalam kartu itu ada uang senilai 1,2 Milyar Rupiah. Uang itu sebenarnya uang yang disiapkan Leo untuk membeli rumah.

"Rumah kontrakan kami sekarang kecil tapi masih bisa ditinggali. Urusan beli rumah bisa nanti saja, urusan kamu masih lebih penting untuk dibereskan." ujar Leo sumringah.

Setelah mengantar Leo pulang, Raffi pun segera membuka ponselnya dan menelepon seseorang.

"Halo, pak. Saya mau beli rumah...."

Esok harinya, Raffi memposting sebuah foto di grup chatting. Di foto itu terlihat sebuah kunci rumah dan selembar kartu yang bertuliskan, "Asisten Direktur, Leo, kunci rumah ini adalah hadiahmu." Leo yang melihat foto itu terperanjat, dan grup chatting yang awalnya hening itu langsung ramai kembali. Semuanya bertanya-tanya apa yang terjadi, dan apa maksud dari foto itu.

Raffi pun berkata, "Dua bulan lalu, ada seorang milyarder yang tertipu oleh sahabatnya. Aku pun terpikir ingin menguji apakah kalian itu teman yang benar-benar sejati atau tidak. Nggak nyangka, sekali uji, wajah asli kalian langsung terkuak."

Saat pesan itu terkirim, dalam sekejap grup chatting itu hening lagi. Tak ada satupun orang yang berani membalas pesan itu. Kini mereka mulai menyalahkan orang yang menyebar gosip Raffi bangkrut itu, tapi nasi sudah jadi bubur. Mau menyesal pun sudah terlambat. Saat lagi kaya, teman-teman mendekati bagai semut. Saat sedang susah, tak ada satupun yang mau mengenal. Bagi kamu yang sudah menemukan teman sejati, mau berbagi denganmu dalam suka maupun duka, bersyukurlah dan jangan sia-siakan!

Sumber: nvrenzuida