Punya Kaki, Punya Tangan, Tapi Aku Serasa Seperti "Tahanan" yang Diborgol Ibu

Pendidikan anak tidak lepas dari pengorbanan ibu sepenuh hati. Namun terkadang apa yang diusahakan ibu sepenuh hati malah menjadi tekanan untuk anak. 

Lama kelamaan, yang dirasakan anak bukanlah kasih sayang ibu, namun tekanan demi tekanan yang bertumpuk. Perhatian ibu malah membuat anak tak bisa bernafas dan membuat anak menjadi seperti bom berjalan, bisa meledak sewaktu-waktu.

Anak bukanlah aksesoris dalam pernikahan, dan juga bukan "barang" milik orang tua. Anak adalah manusia, yang punya hati dan perasaan, punya HAK untuk memilih.

Bagi anak, "ditemani orang tua" adalah bentuk dari kasih sayang.

Namun, menjadi ibu yang baik bukan saja harus menemani. Ibu yang masih harus menata diri lebih baik, menjadi teladan dan sumber energi bagi anak-anaknya.

Ibu harus bisa memberikan kasih sayang yang "secukupnya" untuk anak, agar anak bisa bertumbuh dengan bebas.

Seorang anak SMP kelas tiga sempat menceritakan keluhan tentang mamanya. Sejak ia lahir, ibunya mulai berhenti kerja dan fokus menjadi ibu rumah tangga.

Namun, menurutnya sang ibu terlalu ketat dan fokus pada dirinya.

Katanya, "Aku merasa diri seperti seorang tahanan saja. Tidak bebas!

Makan harus makan apa, harus berapa banyak, jam berapa harus kerjakan PEER, jam berapa harus selesaikan PEER, jam berapa harus tidur dan bangun semuanya harus diatur sama dia! Bahkan buku diariku akan dilihatnya. Aku benar-benar tidak bisa bernafas!"

"Selain itu, ibu seperti tidak ada urusan lain yang bisa dikerjakan.."

"Saat aku nggak makan satu kali saja, atau ulangan jelek satu kali saja, ibu pasti akan langsung mengomel tiada henti, mengatakan bahwa dia telah capek-capek berkorban demi aku, kenapa aku bisa tak patuh dan menyak!ti perasaan dia."


"Dia selamanya BENAR! Aku selamanya SALAH! Aku benar-benar tidak tahan lagi."


Ini adalah isi hati anak-anak yang sudah dikontrol sedemikian rupa, perhatian ibunya yang kelewatan malah membuatnya merasa tertekan sampai tak bisa bernafas.


Perhatian yang berlebihan malah akan menjadi PENGRUSAKAN. Perhatian yang terlalu berat tidak bisa ditopang oleh anak.


Mungkin kalian pernah mendengar kisah tentang ibu dari mantan Presiden Obama, alm. Ann Dunham. Ibunya adalah sosok ibu yang berhasil, karena berhasil membesarkan anak sehebat Obama.

Namun ibu Obama tidaklah seperti ibu-ibu pada umumnya yang memperhatikan anak selama 24 jam non stop.

Demi bersekolah meraih predikat Doktor di Amerika, ibu Obama menyerahkan Obama ke kakek nenek buyutnya. Ibu Obama meningkatkan diri sendiri, namun hal itu tidak membuat hubungannya dengan anak menjauh.

Sebaliknya, karena mendapat kebebasan dan kelonggaran, Obama tumbuh menjadi pria yang ceria, kuat dan tegar dalam menghadapi tantangan hidup.

Ibu yang bersekolah malah membuat Obama merasa sang ibu sangat patut dikagumi.

Banyak sekali orang tua yang mempunyai konsep yang salah. Mereka selalu merasa bahwa seluruh perhatian harus difokuskan kepada anak, dan bagi mereka inilah bentuk "kasih sayang" yang sejati. Namun mereka tidak tahu bahwa, perhatian yang berlebihan sama dengan pengontrolan yang kelewatan.

Anak yang seharusnya tumbuh besar dengan bebas malah menjadi tahanan yang terikat dengan "borgol tak kasat mata". Seorang ahli pendidikan terkenal dari Tiongkok, Tao Xingzhi pernah berkata, "Biarkan otak, tangan, kaki, waktu, ruang anak bebas. Biarkan mereka mendapat pendidikan yang benar dari kebebasan itu."

Cinta dan kebebasan adalah langkah yang penting dalam pendidikan anak. 

Ibu yang hebat adalah ibu yang mengerti bagaimana "malas", yaitu bagaimana melonggarkan sedikit perhatiannya. 

Ibu yang hebat bisa memberikan anak ruang dan kebebasan untuk bertumbuh.

Bila didikan ibu berhasil, maka anak juga akan menjadi orang yang berhasil.

Sumber: twgreatdaily