Menghadiri Pesta 60 Tahun Papa, Aku Bawa Pulang Sebungkus Sayur Sisa. Aku Menangis Begitu Membukanya!

Namaku Susi, aku punya seorang adik bernama Budi, sejak kecil sudah s4kit - s4kitan.

Sponsored Ad

Mama sejak Budi kecil, sudah m3ningg4l dunia, sedangkan papa sejak kepergian mama, mengasuh kami berdua sendirian sampai dia sendiri tidak menjaga kesehatannya sendiri sampai - sampai papa juga s4kit keras.

Karna itulah, papa tidak bisa lagi bekerja keras. Demi menghidupi dan menyekolahkan kita, papa pinjam uang sana sini. Dengan mataku sendiri, aku melihat hutang keluargaku semakin lama semakin besar. Oleh karna itu, aku sendiri setelah lulus SMA, aku memutuskan untuk tidak lagi lanjut kuliah dan membantu ekonomi keluarga.

Sponsored Ad

Sebenarnya, nilai sekolahku bagus sekali. Untuk masuk ke universitas yang ternama pun aku mampu, namun karna keadaan keluarga, terpaksa mimpiku hanyalah menjadi sebuah mimpi. Aku tidak menyesal, aku berusaha mewujudkan mimpiku, ke diri adikku! Aku pelan - pelan membayar hutang rumah dan beberapa tahun kemudian, adikku tidak mengecewakan aku, dia berhasil masuk ke sekolah yang aku kejar dulu dan sekolah yang sangat bagus!

Sponsored Ad


Beberapa tahun pun berlalu, kami berdua masing - masing sudah menikah, dan kami juga sudah punya anak, keluarga sendiri, akan tetapi kami pun tidak kehilangan rasa kekeluargaan kami, kami tetap dekat. Saat kami menjalani kehidupan kami, keluargaku mengalami b3nc4na membuat suamiku harus menjadi 1ump*h, dan akulah yang menjadi tulang punggung keluargaku. Adikku tahu hal ini terjadi, selalu datang ke rumah kami untuk kasih makanan, buah, bahkan terkadang dia ngasih uang yang banyak, tapi selalu kutolak karna dia masih ada keluarga yang harus dijaga.

Sponsored Ad

Beberapa hari yang lalu, papa akhirnya memasuki umur ke-60nya. Kami pun buat pesta sedikit besar untuk dia dan mengundang teman - temannya dan saudara - saudara jauh kita. Kami mengadakannya di sebuah hotel dan kelihatan, papa sangat hepi dengan pesta ini. 

Sponsored Ad

Saat acara berlangsung, aku senang melihat anak - anakku makan dengan lahap dan mereka juga senang, akan tetapi disitu saya pun ikut sedih, karna anakku sangat jarang makan enak seperti hari ini.

Acara selesai, kami pun siap - siap mau pulang. Adik iparku menyodorkan sebungkus sayur sisa untuk dibawa pulang,"Kaka, ini sayur dari meja kami, sama sekali belum kesentuh kok, bawa pulang ya sayang..."

Aku pikir - pikir, ya sudahlah bisa hemat juga kan...

Sponsored Ad

Sebegitu sampai ke rumah, aku pun berencana untuk memanaskannya untuk suamiku. Pas aku membereskannya, ASTAGA! Ada kartu ATM dan sepucuk surat

Sponsored Ad

"Kak, kartu ATM itu ada uang sejumlah 25 juta Rupiah, tak ada passwordnya, ini sedikit dari aku dan adikmu, plis diterima ya. Keadaan seperti ini, kalau bukan kami yang membantumu, siapa lagi? Selama ini kamu selalu menolak pemberian kami, jadi terpaksa kami pakai cara ini. Kita sudah 1 keluarga, 1 keluarga harusnya saling membantu. Kalau dulu bukan karna kakak yang bekerja keras, mana mungkin adik kakak bisa kuliah dan bertemu dengan aku? Kak, percayalah, keadaan ini pasti akan membaik!"


Sepucuk surat ini membuatku berlinang air mata! Aku sangat bersyukur kepada Tuhan, adikku telah menerima malaikat dari surga. Aku bersyukur kalau selama ini, adikku melihat perjuanganku untuk dia. Meski serba kekurangan, tapi tetap Harta Yang Paling Berharga Adalah Keluarga.


Sumber : zja166

Kamu Mungkin Suka