Sejak Adik Iparku Tinggal di Rumah, Aku Sering "Kehilangan Uang". Setelah Lihat CCTV, Ternyata Begini!!

Namaku Lestari, aku adalah seorang gadis desa yang menikah dengan pria bernama Uus. Suamiku tidak tampan, tidak romantis, tapi ia adalah seorang suami yang jujur, perhatian, dan sangat bertanggung jawab.


 

 

Kami pun menikah secara sederhana, tidak mengundang banyak orang dan dekorasi ruangannya pun tidak terlalu megah. Namun kami semua bahagia, keluarga puas, dan para tamu pun ikut senang.

Uus pun berasal dari keluarga sederhana, ia mempunyai seorang adik yang menikah lebih dulu dari kami, namanya Santi. Di hari kami menikah, Santi membelikan kami sebuah mobil. Ia begitu baik, karena dari kecil Uuslah yang selalu membiayai sekolah Santi.

Setelah kami menikah, aku dan Uus pindah ke kota untuk mengadu nasib. Dua tahun kami bekerja keras, akhirnya kami bisa membeli sebuah rumah yang layak tinggal.

Aku pun mengandung dan melahirkan seorang bayi putra yang tampan. Aku terpaksa berhenti kerja dan di sehari-harinya di rumah untuk merawat anak, membereskan rumah, dan memasak.

Namun waktu berlalu begitu cepat, kini anakku sudah masuk SD. Aku pun jadi bisa kembali bekerja setelah mengantar anak sekolah. Memang gaji yang didapat tidak banyak, tapi cukup untuk membiayai makanan sehari-hari.

Tak lama kemudian aku mendengar kabar Santi, adik iparku bercerai. Ia pun ingin bekerja di kota besar, dan bertanya apakah mungkin ia tinggal di rumahku sementara waktu. Aku pun langsung menyetujuinya, meskipun rumah tak besar, tapi cukup untuk tinggal 4 orang.


Sikap Santi kepadaku pun sangat baik, ia tiap pagi bangun untuk membantu membereskan rumah, masak, dan pergi ke pasar. Ia pun sangat dekat dengan anakku. Aku menganggap Santi sudah seperti adik kandungku sendiri.

Namun sejak kedatangan Santi di rumah, mulai munculah hal-hal aneh. Aku sering kehilangan uang dari lemari kamarku, awal-awal aku kira kelupaan. Namun semakin hari, uangku terus berkurang tanpa sebab.

Aku pun sempat menduga bahwa Santi pelakunya, tapi aku tidak punya bukti yang kuat. Akhirnya aku diam-diam menaruh kamera di kamar dan memantau aktifitas kamar dari komputer kantor.

Jam 11 siang aku melihat Santi masuk ke kamarku untuk menyapu, mengepel, dan menaruh pakaian di atas kasur. Tapi aku tidak melihatnya berjalan ke arah lemariku.


Namun jam 1 siang, aku malah menemukan pemandangan yang tidak terduga! Tiba-tiba anakku malah masuk kamarku dan berjalan ke arah lemari bajuku.

 


“Loh kok anakku tidak sekolah? Kenapa jam 1 dia bisa berada di rumah? Dan ngapain dia berjalan ke arah lemari bajuku?” tanyaku dalam hati.

Ternyata telah diselidiki, anakku terkenal dengan murid yang tukang bolos di sekolahnya. Semua nilai ujiannya jelek, hobinya melawan guru, dan ia sering pakai uang curian untuk pergi main ke warnet. Aku pun syok dengan keadaan anakku, aku baru sadar bahwa selama ini aku terlalu sibuk dengan urusan kerjaan, sehingga aku lupa memperhatikannya.

Aku juga merasa berdosa karena telah mengira Santi yang tidak-tidak. Bagaimana bisa orang sebaik Santi aku tuduh sebagai pencuri?

Dari kejadian ini mengajarkan kepada kita agar kita tidak sembarang menaruh curiga pada orang lain. Carilah kebenarannya terlebih dahulu, baru kita bisa menilai orang lain. Dan sebagai orangtua juga kita tidak boleh sibuk dan fokus untuk mencari uang saja, tapi pendidikan anak juga adalah salah satu hal yang terpenting.