Putra Kami Hilang dan Kami Adopsi Seorang Putri. 16 tahun Berlalu, "Pacar" Putri Kami Buatku Terdiam!

Aku dan istriku, adalah teman kuliah. Kami pacaran sejak kuliah dan akhirnya menikah setelah kami berdua wisuda.

2 tahun kemudian, kebahagiaanku menjadi sempurna ketika aku dengar suara isak tangis putra pertamaku! Seorang putra yang imut, gemuk, dan banyak sekali rambut yang menghiasi kulit kepalanya. Sebuah tanda lahir pun tercetak besar di lengannya. Teman kami yang datang malah bercanda "Kalau ada tanda lahir, kalau dia hilang pun, gampang dicari"! Saat itu kami tidak berpikir banyak karna hanya gurauan semata.

Tapi, Kenyataan atas dasar perkataan ternyata benar, saat itu istriku bawa putra kami berumur 5 tahun, pergi ke pasar untuk belanja. Saat istriku membungkukkan badan untuk mengambil kentang yang jatuh, begitu dia angkat kepalanya, putra kami sudah hilang. Kala itu, menjadi masa terkelam dalam hidup kami. Istriku selalu menyalahi dirinya sendiri, aku pun resign dari pekerjaanku untuk mencari putra kami. Kakek neneknya pun jatuh sakit ketika mendapat berita buruk ini, menjelajahi berbagai sudut kota sembari menempelkan selembaran "Dicari Anak Hilang", meski demikian, kami tidak menyerah mencari putra kami!

Istriku mulai stress, selalu menyalahi dirinya sendiri padahal semua bukan salahnya. Aku harus kuat, menghadapi cobaan ini, untuk selalu menghibur dan mendukung istriku untuk tidak melepaskan harapan! Tahun demi tahun berlalu, 3 tahun pun berlalu, tanpa adanya kabar putra kami. Istriku pergi ke seluruh panti asuhan yang ada, untuk mencari informasi sampai 1 hari istriku bertanya,"Pa, bagaimana kalau kita adopsi anak aja pa?" Aku tahu, mungkin inilah caranya untuk lepas dari bayang - bayang putra kami, aku pun setuju.

Kami akhirnya adopsi seorang putri, ya tentu saja aku tahu alasannya, kalau seorang putra, pasti istriku akan membandingkan putra kami dengan anak adopsi ini, tidak bagus untuk istriku dan anak adopsi itu.

Kami pun membersihkan semua cinta dan waktu kami ke putri baru kami. Perlahan tapi pasti, istriku mulai bisa move on dan lepas dari rasa bersalahnya selama ini.


Waktu mengiring waktu, Salsa, putri kami sudah meginjak usia anak muda. Kesedihan dan bayang hitam kami pun sudah sirna. 16 tahun setelah kejadian itu, putri kami sudah wisuda. 1 hari putri kami menelepon dari kota rantauannya,"Pa, Ma, aku mau kenalin cowok aku nih... minggu ini aku bawa pulang ke rumah ya, kita makan bareng." Aku senang sekali, akhirnya misi dan tujuan menjadi ayah pun akhirnya terpenuhi dengan langkah pertama menemui calon menantu masa depanku.

Hari H datang, kami akhirnya kedatangan "tamu spesial" ini. Sewaktu bertemu dan berkenalan, aku melihat wajahnya, kok rasanya kenal ya?

Kami mulai makan dan ngobrol - ngobrol sampai istriku bertanya,"Ah, nak, orangtuamu kerja di bidang apa?"

Dia pun terdiam sejenak, kemudian pelan - pelan dia bilang,"aku sendiri tidak tahu siapa orangtua kandungku. Aku diadopsi oleh seseorang." Setelah kalimat itu, istriku terdiam dan pergi mencuci piring kotor dengan meninggalkan senyuman yang dingin.


Sewaktu kami mencuci piring kotor, sebagai calon mantu yang baik, dia datang ke dapur untuk membantu kami. Dengan kemeja putih lengan panjang berbintik hitam, dia mengulung lengan kemejanya 1/2 lengan agar lengannya tidak basah. Sontak kami kaget, di lengannya ada bercak hitam seperti tanda lahir yang SAMA PERSIS DENGAN TANDA LAHIR PUTRA KAMI!

Istriku histeris, menangis, langsung bertanya, siapa namamu sebenarnya? Dimana asalmu?

Kehebohan pun terjadi malam itu, seakan - akan Tuhan mengirimkan putra kami kembali ke pangkuan kami. Pertama kami tidak percaya, bahkan pemuda ini pun sulit mempercayainya! Akhirnya aku minta dengan mohon "Bagaimana kalau kita melakukan tes DNA?". Pemuda ini pun setuju dan kami pergi melakukan test DNA, istriku, aku dan pemuda ini.

Minggu depan hasilnya keluar, aku minta pemuda itu datang ke rumah bareng putri kami, dan bersama kami membuka amplop yang berisikan hasil test DNA, dan BENAR! DIA PUTRA KAMI YANG HILANG!

Isak tangis dan kebahagian tercampur dalam sontak tangisan ketika istriku memeluk putra kami! Aku yang tidak bisa bisa menahan tangisku pun ikut memeluk dari belakang.


Mungkin inilah yang disebut dengan karma baik, ketika kami mengadopsi seorang anak, membesarkannya dengan cinta, Tuhan Maha Kuasa melihat dan memberikan jalan kepada keluarga kita.


Sumber : FoYuan