90% Orang Tua Selalu Memuji Anak, Tapi Nyatanya Salah dan Bisa Merusak Karakter Anak, Ubah Sekarang Sebelum Terlambat!

Beberapa orang tua sering berkata:

“Waktu dulu, apa-apa susah, belum lagi kalau gak nurut langsung dimarahi dan dipukul. Kami tidak mau anak-anak kami mengalami kepahitan yang sama, maka dari itu kami pasti akan berusaha sekuat tenaga agar mereka bahagia.”

Alasan di atas yang membuat orang tua generasi sekarang begitu mudah memanjakan anak-anak mereka. Mereka merasa bahwa cara mendidik orang tua zaman dulu dan terlalu keras, sehingga membuat anak-anak justru merasa tertekan atau merasa tidak bahagia. Hal inilah yang kemudian menjadikan orang tua zaman sekarang terkesan lebih ‘lembek’, cenderung ke arah terlalu memanjakan anak.

Sponsored Ad

Contohnya seperti yang kita sering lihat. Zaman dulu, orang tua akan berkata pada ibu guru,”Ibu, kalau anak saya nakal atau tidak mau nurut, marahi saja atau dipukul pun tidak apa-apa.” Sedangkan sekarang, padahal jelas-jelas anak yang salah karena sering tidak mengerjakan PR atau bahkan berbuat onar di sekolah sehingga membuat guru harus main tangan, orang tua malah membela sang anak dan tidak sedikit guru-guru harus menerima hukuman pemecatan atau bahkan dipenjara.

Sponsored Ad

Orang tua mulai sadar bahwa mencintai dan mengasihi anak, bukan berarti harus memanjakannya secara berlebihan. Memberi perhatian kepada anak tentu saja adalah hal yang wajar, namun sekali lagi ditekankan bahwa sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Orang tua harus bisa menjadi teladan dan membimbing anak agar bisa menjalani hidup ini dengan mandiri. Memanjakan anak secara berlebihan bisa berdampak buruk pada tumbuh kembang dan masa depannya.

Anak yang terbiasa dimanja orang tua biasanya akan memiliki 4 ciri-ciri berikut. Jika anak sudah memiliki 4 ciri-ciri ini sebaiknya orang tua mulai bergegas memperbaiki diri, terutama dalam hal mendidik anak. Jangan sampai dibiarkan berlarut-larut hingga akhirnya anak memiliki karakter buruk yang sulit dirubah.

Sponsored Ad

1. Mengutamakan hak daripada kewajiban

“Aku baru mau mengerjakan PR kalau mama membelikan mainan yang aku mau.”

Anak-anak sering kali meminta imbalan atas beberapa hal yang seharusnya menjadi kewajiban mereka. Seperti yang kita tahu, mengerjakan PR adalah kewajiban setiap anak, hal itu seharusnya tidak perlu lagi harus diberikan imbalan ataupun dirundingkan kembali.

Orang tua harus sedari dini menjelaskan dengan baik perihal kewajiban dan hak pada anak-anak. Jika anak-anak lebih mengutamakan hak daripada kewajiban, ini bisa berkembang menjadi sifat buruk. Orang tua harus mulai intropeksi diri dan melakukan pendekatan lain agar anak mengerti apa yang benar dan salah.

Sponsored Ad

2. Tidak menghormati orang tua

Hal yang paling tidak diinginkan oleh orang tua adalah memiliki anak yang tidak berbakti. Salah satu contoh anak tidak berbakti adalah anak yang tidak menghormati orang tuanya sendiri, tutur katanya kasar dan sering berbalik memarahi orang tua. Orang tua yang terlalu memanjakan, selalu memuji anak, membela dan membenarkan semua yang dilakukan anak akan membuat anak merasa bahwa dirinya lah yang paling benar.

Sponsored Ad

Pujian itu boleh, tetapi lebih efektif untuk anak yang masih sangat muda, yaitu usia 0-3 tahun. Pada usia tersebut, anak memang sedang belajar menguasai banyak keterampilan dasar. Memberinya pujian saat ia bisa membuang sampah pada tempatnya akan mendorong ia terus melakukan itu.

Begitu memasuki usia prasekolah, saat kita memuji pada hal-hal yang harusnya sudah ia kuasai. Misalnya, makan sendiri, buang air kecil di toilet, atau buang sampah pada tempatnya, malah bisa mengurangi makna pujian itu. Hal ini malah bisa membuat anak berpikir bahwa “Aku makan sendiri supaya dipuji.”

Sponsored Ad

Selain itu, saat anak tidak dipuji, atau tidak setuju terhadap suatu hal dan mengalami perselisihan dengan orang tua, ia akan langsung emosi dan akhirnya memarahi orang tua. Di tingkat yang lebih parah, anak bahkan tidak segan-segan main tangan terhadap orang lain yang tidak sependapat dengannya. Kebiasaan buruk yang didiamkan terlalu lama akan sulit untuk diperbaiki. Jika melihat ciri-ciri ini, orang tua harus dengan cepat mengoreksi dan mengambil tindakan agar anak tidak terjerumus lebih dalam.

Sponsored Ad

3. Egois

Saat sedang menikmati makanan enak, apakah anak akan berbagi atau menikmatinya sendiri? Orang tua pada dasarnya selalu mengutamakan yang terbaik untuk anak, sehingga kebanyakan orang tua pasti akan memberikan semua makanan enak pada anak-anaknya terlebih dahulu, baru kemudian memakan sisanya.

Sponsored Ad

Hal ini tanpa disadari justru membuat anak menjadi pribadi yang egois. Ia merasa bahwa memang sudah sepantasnya ia diberikan yang terbaik oleh orang-orang, tapi ia tidak pernah mau memberi. Ia selalu ingin dipenuhi segala keinginannya dan tidak peduli pada orang lain, yang terpenting adalah ia bisa bahagia.

Sponsored Ad


4. Mengganggu ketenangan umum

Kamu pasti sering melihat anak merengek dibelikan sesuatu di depan umum bukan? Dari yang hanya merengek biasa, sampai yang menangis hingga tiduran di lantai. Kamu juga pasti pernah melihat anak-anak yang tidak bisa duduk diam saat naik transportasi umum, berlari-larian atau memainkan alat makan saat sedang berada di restoran. Bertemu dengan anak-anak seperti ini membuat banyak orang di sekitar menjadi tidak nyaman.

Ingin marah, tapi tidak mau menimbulkan keributan yang lebih mengganggu orang lain. Diam saja, tapi diri sendiri pun merasa terganggu. Kondisi ini sungguh membuat kita merasa serba salah. Jika orang tua tidak cepat-cepat bertindak tegas dan memberikan pengertian pada anak, maka akibatnya akan fatal! Anak akan menjadi pribadi yang seenaknya dan tidak peduli pada orang lain. Kalau orang tua tidak sedari kecil mendidik anak dengan baik, bagaimana mungkin anak bisa tumbuh menjadi sosok yang bijaksana? Orang tua sungguh memerankan peranan penting dalam tumbuh kembang anak.

Penelitian menunjukkan bahwa anak usia 3-6 tahun merupakan masa penting di mana orang tua harus benar-benar menanamkan nilai-nilai yang baik pada anak. Jangan biarkan anak-anak tumbuh dengan kebiasaan-kebiasaan buruk. Jika sudah terlalu dimanjakan, lewat dari usia 6 tahun, sudah sangat sulit mengubah kebiasaan buruk tersebut.

Sekali lagi perlu diingat bahwa bentuk kasih sayang orangtua kepada anak bukan berarti harus menuruti semua keinginan anak, ada batasan-batasan tertentu di mana orang tua tidak harus terlalu memanjakan anak. kita sebagai orangtua sebaiknya selalu mengoreksi diri juga. Apakah selama ini cukup bijaksana atau malah sudah masuk dalam kategori memanjakan anak dengan berlebihan???


Sumber: Bear