Parah! Sukses Jadi Pengusaha Kaya, Wanita Ini Pura-Pura Miskin dan Enggan Pulang Menengok Ibunya!

Berawal dari kerja keras selama bertahun-tahun, perusahaan yang didirikan Liu Hong akhirnya mengalami perkembangan pesat. Liu Hong sendiri adalah seorang yang ambisius. Dia kemudian berencana memperluas usahanya di kota yang terletak di bagian selatan dan karena itulah dia mencari perusahaan mitra yang dapat diandalkan.

Sponsored Ad

Di detik selanjutnya, tiba-tiba terbersit dalam benak Liu Hong teman sekampusnya dulu yang bernama Ming Tao. Liu Hong pun menelepon Ming Tao dan menjelaskan niatnya. Setelah mendengar penjelasan Liu Hong, Ming Tao langsung menjawab, "Aku pikir perusahaan kami sangat cocok untuk menjadi mitramu."

Mendengar itu, Liu Hong tidak sabar lagi untuk bertemu dan melakukan survei ke perusahaan tempat Ming Tao bekerja. Bos perusahaan Ming Tao adalah seorang wanita bernama Wu Mei. Wu Mei kemudian membawa Liu Hong berkeliling perusahaannya dan membuat diskusi terperinci dengan Liu Hong. Sehari sebelum Liu Hong meninggalkan kota itu, dia mengajak Ming Tao keluar untuk makan bersama.

Sponsored Ad

"Memang benar katamu, perusahaan tempat kerjamu ini sangat cocok untuk menjadi mitra kami. Tapi, kau kan mengetahui karakterku. Aku punya prinsip kalau memilih mitra kerja sama, orang itu harus baik dan dapat dipercaya, jujur, dan bertanggung jawab. Coba bocorkan sedikit mengenai bosmu itu supaya aku bisa mengambil keputusan akhir. Seperti apa dia menurutmu?" tanya Liu Hong pada Ming Tao.

Sponsored Ad

"Aku juga baru setahun di sini dan tidak banyak yang kutahu mengenai kepribadiannya. Tapi secara keseluruhan, Wu Mei orangnya baik, hanya saja ada satu hal yang agak aneh," kata Ming Tao.

"Apa itu?" sahut Liu Hong terperanjat sambil membelalakkan matanya.

Sponsored Ad

"Pernah dua kali aku tanpa sengaja mendengar percakapannya dengan ibunya di telepon, dia bilang zaman sekarang susah mencari uang, biaya transportasi juga mahal, jadi tidak pulang dulu ke kampung," jawab Ming Tao.

"Jelas-jelas dia sangat kaya, tapi mengapa harus berbohong? Selain itu, aku juga mendengar bahwa Wu Mei sudah lima tahun tidak pernah pulang ke kampung menjenguk ibunya. Sebagai seorang anak, kan tidak boleh seperti itu. Tapi sepertinya Wu Mei bukan orang seperti itu deh," lanjut Ming Tao

Sponsored Ad

"Oh, begitu ya," sahut Liu Hong sambil menganggukkan kepala dan merenung.

Sponsored Ad

Liu Hong kemudian memutuskan untuk mencari tahu mengenai Wu Mei. Setelah mendapatkan alamat tempat tinggal Wu Mei di kampung, Liu Hong pun segera ke sana sendirian. Liu Hong baru mengetahui latar belakang Wu Mei setelah bertanya kepada penduduk desa setempat. Ternyata, saat Wu Mei berusia 14 tahun, orang tuanya pergi untuk selamanya dan sejak itu dia pun menjadi yatim piatu. Wu Mei punya teman sekelas bernama Ling Ling. Ibu Ling Ling adalah orang yang ramah dan baik hati. Dialah yang kemudian dengan susah payah membantu membiayai sekolah Wu Mei. Wu Mei sangat berterima kasih kepada ibu Ling Ling dan menganggapnya sebagai ibunya sendiri.

Sponsored Ad

Belakangan, tak lama setelah Wu Mei bekerja, Ling Ling malah pergi untuk selamanya karena sakit yang menderanya. Hal itu pun menjadi pukulan berat bagi sang ibu. Saking sedihnya, sang ibu mengalami gangguan mental dan setiap hari dia menangis sedih meratapi kepergian Ling Ling, anak semata wayangnya. Dia juga bahkan berkali-kali bermaksud mengakhiri hidup, namun beruntung berhasil dicegah oleh penduduk desa.

Sponsored Ad

Suatu hari, Wu Mei menelepon ibu mendiang Ling Ling untuk menghiburnya, namun dia malah dikira Ling Ling. Tak disangka, sang ibu seketika tertawa senang. Wu Mei pun berpikir, jika itu bisa membuat ibu mendiang Ling Ling merasa lebih baik, maka tidak ada salahnya terus bersandiwara dan pura-pura menjadi anak perempuannya. Jadi, sejak itu Wu Mei sering meneleponnya dan setiap bulan dia juga mengirimi uang.

Tetapi, di satu sisi dia sendiri tidak berani pulang, karena takut sandiwaranya akan ketahuan. Karena itulah Wu Mei selalu mencari-cari alasan belum bisa pulang ke kampung untuk menjenguknya. Semua itu dia lakukan supaya ibu mendiang Ling ling bisa terus hidup di dunia mimpinya seakan Ling Ling, anak perempuannya itu masih hidup. Setelah memahami kondisi Wu Mei, Liu Hong segera menelepon Wu Mei dan berkata, "Bu direktur, saya sangat berharap dapat bekerja sama dengan Anda. Bisakah kita bertemu untuk membahas lebih lanjut?"


Sumber: erabaru


Kamu Mungkin Suka