"Mama dan Papa Cerai Aja, Aku Gak Tahan Sama Si Mbak" Perkataan Anakku Bagai Tamparan Keras yang Menyadarkanku…

Ga pantes jadi suami dan ayah!
Sponsored Ad

Aku menikah dengan suamiku ketika aku mengandung putra kami. Suami dan mertuaku memperlakukanku dengan sangat baik dan kehidupan rumah tangga semakin lengkap dan bahagia ketika putra kami lahir. 

Sponsored Ad

Empat tahun lalu mertuaku meniggal karena kecelakaan ketika sedang pergi liburan. Suamiku amat terpukul dan menyalahkanku atas kematian mereka karena aku mengijinkan mereka pergi liburan. Sejak saat itu kehidupanku mulai berubah drastis…

Suamiku seringkali pulang larut malam dengan alasan sibuk dan sikapnya terhadapku berubah dingin. Sebenarnya aku tahu bahwa suamiku punya wanita lain di luar, tetapi aku tetap bertahan dan pura-pura tidak tahu karena aku ingin anakku bisa tumbuh di keluarga yang utuh walaupun keadaan rumah tangga kami sudah tidak seperti dulu…

Akhirnya aku memutuskan untuk belajar dandan dan melakukan berbagai macam cara untuk menarik perhatian suamiku kembali. Tak disangka suamiku memberi respon yang baik, namun sayangnya hal tersebut tak bertahan lama. Suamiku kembali berhubungan dengan wanita lain dan kali ini ia bahkan berani menelpon wantita tersebut dengan mesra dihadapanku! 

Suatu hari suamiku membawa wanita tersebut pulang ke rumah dan minta untuk bercerai. Aku menolak untuk bercerai dan memilih untuk menerima wanita tersebut tinggal di rumah karena aku tak mau anakku tidak memiliki ayah. Wanita itu berpura-pura tinggal di rumah sebagai pembantu, namun sesungguhnya akulah pembantu di rumah itu ketika anakku tidak dirumah. 

Malam itu, anakku yang baru berumur 14 tahun berkata,"Mama dan papa cerai aja, aku udah gak tahan sama si mbak!". Aku kaget luar biasa mendengar perkataan tersebut. Aku mengira bahwa selama ini aku sudah menutupi hal tersebut dengan sangat baik. Tak hanya itu, anakku lanjut berkata,"Aku lihat ada yang aneh dengan cara si mbak memandang papa. Mama tau nggak, mbak seringkali mengancamku dengan berkata ia akan merebut papa dan mengusir kita dari rumah! Beberapa kali aku melihat papa dan si mbak berpelukan, ketika aku berusaha memisahkan mereka, si mbak memarahiku dan papa hanya diam saja. Ma, cerai saja sama papa, aku akan menemani mama dan melindungi mama…."

Sponsored Ad

Keesokan harinya ketika aku sedang menyiapkan sarapan bagi anakku, wanita itu datang dan merebut makan pagi anakku. Dengan marah aku mengambil piring dan melempar isinya ke muka wanita itu sambi berteriak,"Makan tuh! Makan!!" Suamiku langsung datang menghampiri kami dan menamparku tanpa berkata apapun. Melihat hal tersebut anakkupun langsung lari menghampiriku dan berteriak pada suamiku,"Jangan pukul mamaku!". Suamiku kaget mendengar perkataan anakku, namun sedetik kemudian ia balik teriak,"Kamu anakku. Makanan yang kalian makan, pakaian yang kalian pakai, rumah tempat kalian tinggal adalah milikku. Sudah bagus aku tidak mengusir mamamu!"

Hari itu juga aku memutuskan untuk keluar dari rumah dan bercerai dengan suamiku. Aku menuntut setengah dari hartanya dan hak asuh anakku, namun suamiku tidak menyetujuinya. Aku boleh tidak mendapatkan harta suamiku, namun aku akan memperjuangkan hak asuh anakku, bagaimanapun caranya!

Sponsored Ad