Dokter Ini Menolong Seorang Wanita yang Sakit Bersalin di Tengah Jalan Gunung dan Setahun Kemudian Waktu Wanita Ini Berterima Kasih, Dia Baru Tahu Ternyata...

Perbuatan baik apapun pasti ada imbalannya, selama didasari dengan hati yang tulus.
Sponsored Ad

Zaman dulu, ada seorang dokter yang bernama ChaoJi yang di suatu malam saat dia keluar dari desanya untuk mengobati pasien di luar sana. Ketika dia berjalan di jalan gunung yang sempit, dia mendengar tangisan seorang wanita. Walaupun takut, dia tidak bisa meninggalkan suara yang tampaknya ingin meminta tolong itu. Insting dokternya pun berjalan dan dia langsung menuju ke arah suara itu. Setelah sampai, dia menemukan seorang wanita yang saat itu sedang sakit bersalin. ChaoJi tidak pernah membantu orang melahirkan, tapi apa boleh buat, saat itu hanya dia yang ada di tempat itu dan dia pun langsung membantu wanita itu dengan segenap kekuatannya.

Sponsored Ad

Setelah lewat 2 jam, wanita itu pun melahirkan anaknya dan semuanya berjalan dengan baik. Wanita ini berkata, "Pak, terima kasih untuk pertolongan anda. Aku nggak akan pernah melupakan kebaikan Bapak." ChaoJi berkata, "Ibu, jangan terburu-buru dulu. Saya seorang diri tidak bisa membantu Ibu turun ke desa. Tunggu saya sebentar di tempat yang lebih aman ini, saya langsung berlari turun ke desa untuk mencari orang membantu anda." ChaoJi berlari ke desa, mencari beberapa orang untuk membantunya dan naik kembali ke gunung tempat dia membantu wanita yang melahirkan itu. Tapi anehnya, wanita itu hilang setelah mereka sampai disana.

Setelah lewat setahun, suatu hari saat ChaoJi keluar dari kliniknya untuk melayani orang-orang diluar, tiba-tiba cuaca berubah buruk, langit menjadi gelap dan hujan deras turun. Walaupun ChaoJi belum berjalan terlalu jauh, tapi langit yang sangat gelap dan perjalanan yang agak menanjak membuat perjalanan itu menjadi agak berbahaya dan dia memutuskan untuk berteduh di bawah sebuah tempat penginapan. ChaoJi kemudian memesan sake dan sedikit makanan kecil untuk menghangatkan diri. Belum lama setelah dia duduk, tiba-tiba ada seorang kakek tua berjenggot panjang yang datang menghampiri dia.

Kakek ini kemudian tertawa, "Ah, bukankah anda ChaoJi." ChaoJi menjawab, "Benar. Sayalah itu." Setelah mendengar jawaban itu, si kakek berkata lagi, "Ah, akhirnya kamu datang juga." Dia kemudian memesan lebih banyak sake dan makanan, mengundang ChaoJi masuk ke kamar yang lebih cantik. Dipenuhi perasaan bingung, ChaoJi mengikuti kakek tua itu. "Aku tidak ada maksud lain, Bapak ChaoJi yang baik hati. Hanya ingin berterima kasih pada anda." Kata si kakek sambil tersenyum. "Aku tidak bisa keluar di pagi hari, karena itu orang tua ini hanya bisa mengundang anda di malam hari."

Sponsored Ad

Melihat kebaikan si kakek, ChaoJi pun mulai tenang dan bertanya, "Entah apa yang membuat anda harus berterima kasih kepada hamba ini?"

"Kamu sudah menolong selir saya. Kalau bukan karena kamu, mungkin selir saya sudah meninggal." Kata si kakek sambil menuangkan sake ke gelas ChaoJi. "Aku selalu ingin berterima kasih padamu tapi selalu tidak ada kesempatan, sampai hari ini."

Dengan rendah hati ChaoJi berkata, "Pak, tangan saya 2 dan kaki saya 2, saya pernah bersumpah untuk menggunakan mereka sebaik-baiknya demi menyelamatkan orang. Itu sudah kewajiban saya. Lagipula begitu banyak pasien yang saya tolong, saya tidak bisa ingat."

Kakek tua itu menuangkan sake ke gelas ChaoJi. Setelah meminumnya, ChaoJi menjadi agak mabuk dan seketika, dia melihat ada seorang wanita cantik yang muncul dari belakang kakek tua dan duduk bersama dengan mereka.

"Ini selir saya, Tina." Wajahnya yang kemerah-merahan membuat dia terlihat sangat cantik. Dia kemudian juga menuangkan sake ke gelas ChaoJi, "Apa kamu nggak ingat, tuan yang baik hati, setahun yang lalu di jalan gunung, anda menolong seorang wanita yang sakit bersalin. Entah saya harus bagaimana berterima kasih pada anda."

Sponsored Ad

Melihat wanita yang ada di depannya itu, ChaoJi teringat masa lalunya. Dia tidak pernah menyangka kalau wanita yang dia tolong waktu itu masih hidup dan sehat. Dia senang melihat orang yang ditolongnya muncul di hadapannya. Mereka pun minum dan berbincang-bincang bersama sampai pagi. "Nyonya dan tuan yang baik, saya bukanlah siapa-siapa. Hanya seorang hamba biasa. Kalau anda butuh bantuan apapun, katakan saja dan hamba akan membantu." Kakek tua itu kemudian mengeluarkan sebuah kotak cantik yang berlapis emas, "Tuan yang baik, anda harus menerima ini. Jangan ditolak." Di dalam kotak itu, ada banyak sekali emas dan harta berharga.

Kaget, tapi dengan penuh ucapan syukur, ChaoJi menerima semuanya itu. ChaoJi berkata, di kemudian hari, tidak hanya menyimpannya untuk diri sendiri, ChaoJi akan membagikan hadiah yang dia terima itu ke orang-orang banyak yang membutuhkan. "Tuan yang baik, kalau anda dalam kesulitan, bukalah kotak ini dan pakailah apa yang ada di dalamnya." Kata Tina dengan lembut.

Tidak lama kemudian, ChaoJi meminum sisa sake yang ada di gelasnya dan berpamitan dengan Tina serta kakek tua itu. Dia kemudian berjalan keluar rumah. Sekeluarnya dari rumah, ada angin lembut yang menerpa wajahnya dan tiba-tiba ChaoJi tersadar. Ketika dia melihat ke seklilingnya, tidak ada rumah, tidak ada toko, di sampingnya hanya ada sebuah kuburan. Bagi ChaoJi, pengalaman ini bukanlah pengalaman yang menyeramkan. Kotak harta yang ada di tangannya itu tetap ada dan tidak berubah. Tentu saja sama seperti janjinya, ChaoJi tidak hanya tetap menjadi dokter yang diandalkan oleh desanya, dia juga menjadi seorang dokter yang membantu kebutuhan orang-orang miskin.

Sponsored Ad