Beberapa Tahun Lalu, Penduduk Desa Mengejekku Karena "Menikahi" Seorang "Gadis Gemuk". Tapi, Setelah Tahu Kenyataannya, Kini Mereka Malah "Iri" Bukan Kepalang!

Penampilan luar itu memang bukan segalanya ya
Sponsored Ad

Aku dan isteriku menikah karena dijodohkan. Ia lebih mudah 5 tahun dariku. Saat pertama kali melihatnya, sebenarnya ia bukanlah tipe favoritku, karena ia gemuk dan tampangnya pun biasa-biasa saja. Ditambah lagi, ia berasal dari keluarga yang miskin, sedangkan aku adalah lulusan perguruan tinggi. Sehingga, ketika akhirnya kami berdua menikah, orang-orang desa terus menerus mengolok-olok kami.

Sponsored Ad

Tetapi, di luar penampilan luarnya, ia sebenarnya adalah seorang wanita yang cerdas, berbakat, berpikiran terbuka, dan sangat baik hati. Ia juga memperlakukan orang tuaku dengan baik dan kata-kata yang ia ucapkan pun sangat sopan. Di tahun pertama pernikahan, kami berdua bekerja paruh waktu di Shenzhen. Ketika tahun baru dan pulang ke kampung halaman, kami melihat banyak orang-orang desa yang pulang dari kota dengan menggunakan mobil, juga tidak sedikit yang sudah membeli rumah baru. Saat melihat kami berdua, mereka mengolok-olok kami. Mereka bilang aku yang lulusan perguruan tinggi ini nasibnya tidak lebih baik dari penduduk desa yang hanya lulusan SMA, ditambah lagi isteriku itu juga jelek. Menurut mereka, jika aku tidak menikah dengannya, maka nasibku pasti lebih baik dari sekarang.


Olok-olok itu pun pada akhirnya sampai ke telinga isteriku. Saat itu, ia pun sangat marah dan mengatakan ia akan membuktikan pada penduduk desa bahwa perkataan mereka itu salah. Setelah lewat tahun baru, isteriku mengatakan padaku bahwa pekerjaan paruh waktu di Shenzhen itu sebaiknya tidak kami lanjutkan karena sama sekali tidak menjanjikan. Ia kemudian mengajakku untuk memulai usaha sendiri dengan membuat dan menjual minyak camelia.

Orang-orang desa yang melihat kami berdua setiap pagi dan sore naik gunung ke pepohonan camelia pun kembali mengolok-olok kami. Mereka berpendapat bahwa kami sebaiknya bertani saja di rumah atau malah pergi kerja lagi ke Shenzhen seperti dulu. Tetapi, kami sama sekali tidak mempedulikan mereka dan terbukti di tahun pertama, kami bisa menghasilkan 30.000 dolar. Kemudian, di akhir tahun kedua pengahasilan kami meningkat hingga ratusan ribu dolar, sehingga kami pun mendirikan perusahaan minyak camelia.

Di titik ini, orang-orang desa mulai iri kepada kami dan entah ide dari siapa, ada orang-orang yang kemudian menebang banyak pohon camelia di atas gunung. Kami pun menderita kerugian hingga seratus ribu dolar lebih. Ditambah lagi, saat itu isteriku tengah hamil dan dengan kondisi yang seperti sekarang ini hatiku pun tak kuasa menahan kesedihan. Tetapi, kami pun berusaha tetap bertahan.

Kemudian, tak terasa tibalah hari isteriku melahirkan. Ternyata, selama ini ia mengandung dua anak laki-laki kembar! Ketika mengetahui bahwa aku sekali jadi memiliki dua orang anak laki-laki, penduduk desa pun tak bisa menahan perasaan iri mereka. Setelah melahirkan dan mulai merawat sendiri anak kami, isteriku makin lama malah makin kurus. Aku pun meminta maaf padanya karena kupikir ia kelelahan mengurus anak kami sendirian. Tapi dia hanya tertawa dan berkata bahwa tubuhnya yang sekarang ini pasti lebih baik baginya juga bagiku.


Tidak peduli menghadapi kesulitan yang bagaimanapun, kami berdua selalu mendukung satu sama lain. Hingga pada suatu hari isteriku itu memintaku untuk mengajarkan bagaimana cara membuat minyak camelia kepada para penduduk desa. Pada awalnya aku tidak mau, karena aku masih mengingat kejadian penebangan pohon camelia oleh mereka dulu. Namun, karena isteriku itu terus memaksaku, aku pun akhirnya menyerah dan membagikan ilmu kepada para penduduk desa. Kemudian, aku pun membantu mereka juga untuk menjual minyak camelia yang telah mereka buat. Dari situ, kami pun bekerja sama untuk memproduksi dan menjual minyak camelia, termasuk juga bersama-sama menanam pohon camelia.

Beberapa tahun kemudian, aku dan isteriku sudah mampu membeli rumah besar dan juga mobil. Penduduk desa yang tadinya mengolok-olok kami berdua, kini malah malu kepada kami, terutama karena dulu mereka mengolok-olok isteriku yang ternyata sangat kompeten itu. Apa yang ada di dalam diri seseorang lebih penting daripada penampilan luarnya. Janganlah menyerah pada penilaian orang, tetapi buktikanlah dirimu bisa jauh lebih baik dari yang mereka perkirakan.


Sumber: BL


Tulisan yang ditampilkan dalam artikel ini dilindungi oleh undang-undang Hak Cipta. Dilarang menyalahgunakan/menggunakan/mencetak seluruh isi atau sebagian, dan memperbanyak tanpa izin tertulis dari pihak Cerpen.co.id


Sponsored Ad