"Ayah Meminjam Uang Menyekolahkanku", Ketika Libur Aku Pulang dan Melihat Rumah Menjadi Bagus. "Setelah Tahu Kebenarannya", Membuat Air Mataku Menetes Deras!

Terharu banget mimin bacanya
Sponsored Ad

Di dalam hatiku yang terdalam, aku tidak pernah lupa bahwa ayahku yang dengan susah payah menyekolahkanku. Ayahku adalah seorang petani, bertahan hidup dan mencari nafkah dengan bertani seumur hidupnya. Dari pagi-pagi buta, ayah dan ibu sudah membersihkan belalang-belalang yang menyebabkan gagal panen. Mereka membanting tulang dan mengusap keringat demi menafkahi kami lima bersaudara. Kakak-kakakku sudah tumbuh dewasa, yang kemudian mereka pergi jauh meninggalkan desa. Aku yang ketika itu masih sedang menuntut ilmu di SMA, menjadi tujuan dan harapan terbesar orang tuaku.

Sponsored Ad

Pada tahun 1994, aku akhirnya memenuhi harapan mereka, aku diterima di perguruan tinggi dan menjadi mahasiswa pertama di desaku. Untuk pertama kalinya, wajah kusam, lelah dan berkeringat ayah dan ibuku berubah menjadi wajah bahagia. Tapi, ketika aku masuk di tahun kedua, ibuku sakit keras dan akhirnya meninggalkan kami. Aku merenung, melihat dengan tatapan kosong ke dinding rumah. Dari waktu ke waktu, para penagih hutang terus berdatangan. Kemudian ayah berkata kepadaku: "Shou Yu (namaku), kamu sekolah saja dengan tenang, masalah di rumah tidak perlu kamu pikirkan, aku rela mengorbankan diriku agar kamu bisa lulus kuliah."

Orang miskin seperti kami sangat sulit mendapatkan uang. Ayah dalam 7 hari pergi ke 7 tempat, mencari semua saudara untuk mencari bantuan. Dan akhirnya jerih payahnya itu hanya membuahkan uang 250 ribu rupiah. Kemudian ia mengantarku untuk kembali ke sekolah. Sesampainya di sekolah, aku tidak makan pagi, makan siang dan malam aku juga hanya makan bakpao dan acar. Aku menghitung bagaimana caranya menghemat.


Tapi setelah 6 bulan berjalan, tiba-tiba muncul penyakit serius yang menyerang kepalaku. Meskipun teman-temanku sudah membantuku agar aku cepat sembuh dan sehat kembali, tapi hal itu percuma saja. Setelah aku mencoba berbagai cara untuk bisa sembuh dan tidak ada hasilnya, akhirnya dengan terpaksa dan menangis aku mengirimkan surat kepada ayahku untuk meminta uang.


Dua minggu setelah itu, ketika aku kembali ke asrama, tiba-tiba bel pintu berbunyi dan seorang petani yang lusuh mendorong pintu sambil berkata: "Zhao Shou Yu apa tinggal disini?" Yah, dia adalah ayahku, dan seketika badanku kaku melihatnya datang." Ia berkata: "Sekolahmu sangat besar ya, benar-benar gak gampang cari kamu. Apakah sakitmu sudah membaik?"

Ayah kemudian melepaskan topinya, aku dengan jelas melihat: kepala ayah penuh dengan rumput.

"Baik, sudah membaik." dengan agak ketakutan dan cemas, aku merebahkan tubuh ayahku ke tempat tidur, "Bagaimana ayah datang?"


Ayahku terus menatapku karena tidak percaya, tapi akhirnya ia tenang dan menganggukan kepalanya: "Baguslah, kalau sudah membaik."


Dengan tangan gemetaran, ayah mengeluarkan uang dari tasnya. "Beberapa waktu ini benar-benar tidak mudah, meskipun agak terlambat, ini ada uang 1 juta untuk mengembalikan uang teman-temanmu." Ketika ayah berbicara, aku melihat ada yang aneh.


"Darimana uang sebanyak itu?" aku bertanya.


Dengan terbatuk-batuk ia berkata: "Bisa darimana? Ya pinjam. Hidupmu ini sangat berharga, anakku, keadaan keluarga kita, kamu juga tahu, uang ini pinjam dan bisa berbunga."


Kemudian aku mengambil uang pemberian ayahku dan mengangguk: "Ayah, tidak perlu khawatir."

Kami pun pergi makan siang dan mengantarkan ayahku untuk balik, dengan ragu ayah berkata: "Anakku, jarak dari kota ke desa sangat jauh, pulang pergi juga akan menghabiskan uang, ketika tahun baru… kamu tidak usah pulang." Aku kaget dan berkaca-kaca ketika itu, kemudian aku buru-buru ke kelas karena ada pelajaran. Aku tidak tahu kenapa, malam itu aku tidak bisa tidur.


Ketika libur musim dingin tiba, aku bersikeras untuk pulang ke rumah. Dari kota ke desa, melewati ratusan miles, aku akhirnya sampai di depan pintu rumah. Aku membuka pintu, melihat dinding putih bersih dengan perabotan baru dan modern, bagaimana mungkin ayahku…


"Kamu cari siapa?" seorang wanita setengah baya keluar dari rumah. Dan tiba-tiba aku tersadar, ak menjatuhkan tasku dan aku bertanya: "Aku cari siapa? Aku yang seharusnya tanya kamu cari siapa? Ini adalah rumahku."

"Rumahmu?" Wanita itu terdiam sejenak, "Oh, kamu adalah anak dari pria tua bernama Zhao itu? Sekarang lagi libur musim dingin ya? Ayahmu tidak memberi tahumu?"


"Sebenarnya kamu siapa?" aku lanjut bertanya.


Wanita itu tersenyum: "Aku baru saja pindah ke desa ini, ayahmu menjual rumahnya kepadaku."


"Apah?!" Aku kaget tidak percaya, ayah menjual rumah yang ia tinggali lebih dari 20 tahun ini.


Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku keluar dan menangis. Tidak peduli seberapa jauh aku berjalan, aku tetap melihat kebun pertanian di sekelilingku.


Di dalam gubuk, ditutupi dengan rumput, dengan disinari sinar bulan, aku melihat sesosok yang kukenal, "Ayah!" aku menangis terisak-isak dan berlutut di depannya.

Ayah kaget melihatku, dan ia buru-buru bertanya: "Ayo bangun, kamu kembali adalah hal yang bagus, sudah makan belum?"


Malam itu, ayah tidak membahas apapun tentang penjualan rumah, tapi aku benar-benar sangat sedih dan menangis semalaman.


Setelah 15 hari, aku bersiap-siap untuk kembali ke sekolah. Ayah menyelipkan selembar sapu tangan, di dalamnya ada total uang 400 ribu rupiah, Ia berkata: "Anakku, ini adalah uang yang aku dapatkan dari menjaga tumpukan jerami, kamu ambil saja."


Air mataku pun membanjiri wajahku: "Ayah, uang yang kemarin masih ada, kamu simpan saja yang ini."

Ayah membalasku: "Jangan berbohong, uang itu pasti sudah habis kan. Biarkan aku disini yang mencari uang, kamu di sekolah baik-baik mempergunakan uang ini, ayah cuma bisa kasih kamu segini saja, Ambillah, anakku, kurang setengah tahun lagi, tidak perduli bagaimanapun juga kamu harus menyelesaikan sekolahmu. Jika kamu lulus, maka ayah sudah bisa pergi meninggalkanmu dengan tenang dan bertemu ibumu."


Air mataku menetes deras, mengangguk dan mengambil uang itu: "Ayah, kamu hati-hati dan jaga diri, aku pergi sekarang." Ketika ayahku tidak memperhatikan, aku memasukkan sebagian uang ke bawah kasur.


Dengan ketekunan dan bantuan dari teman-temanku, akhirnya aku menyelesaikan semester terakhir. Setelah lulus, aku dengan segera kembali ke kampung halamanku.


Ketika itu, ayah dan saudara laki-laki kembali tinggal bersama di rumah, aku juga sering pulang menemui ayah. Ayah sering berkata kepada saya: "Tidak perlu khawatir kepadaku, aku sehat-sehat saja, ada kakakmu yang mengurusku, kamu baik-baik bekerja saja."


Aku tersenyum dan mengangguk berjanji akan menjadi orang yang sukses. Di dalam ingatanku, selalu teringat wajah ayah yang penuh dengan keringat dan rumput. Aku tahu perbuatan ayah dan semua pengorbanannya akan selalu ada di benakku dan akan membuatku menjadi seseorang yang lebih kuat.


Sumber: gwrs


Tulisan yang ditampilkan dalam artikel ini dilindungi oleh undang- undang Hak Cipta. Dilarang menyalahgunakan/menggunakan/mencetak seluruh isi atau sebagian, dan memperbanyak tanpa izin tertulis dari pihak Cerpen.co.id

Sponsored Ad