Suaminya Tiba-Tiba Ingin Bercerai, Siapa Sangka, Sang Istri Malah "Tertawa Dan Mengatakan Hal" Yang Membuat Suami Menangis Ingin Kembali!

salut sama perkataannya..
Sponsored Ad

Aku sedang nonton TV dan tiba-tiba dia berkata: "aku ingin cerai."

Sponsored Ad

Dia terlihat serius dan tidak seperti sedang bercanda. Tapi yang ada di pikiran saya waktu itu adalah: mungkin dia sedang mengalami kerugian besar atau dia terserang penyakit serius dan takut menjadi beban untukku. Aku segera menggelengkan kepala dan secara spontan berkata bahwa aku akan terus menemaninya.


Kalimat keduanya ia berkata: "aku mencintai orang lain, maaf."


"Kapan?" aku mencoba tetap tenang


"6 bulan. Aku kenal dia waktu liburan. Dia adalah pemandu wisata. Orangnya sangat sederhana dan hangat." Mungkin karena ia merasa sudah terlalu banyak menggunakan kata pujian untuk orang tersebut, ia berhenti dan manatapku dengan tatapan bersalah.


"Seberapa cinta?"


"Sangat cinta"


Aku tidak bertanya lagi. Bertanya lebih hanya akan membuat aku semakin terluka. Lebih baik mengosongkan pikiran buruk dan mengenang kembali masa indah bersamanya. Kami sangat bahagia, tapi ia sudah bosan denganku, mengapa tidak kulepaskan saja?


Aku menghela napas panjang, "semuanya tergantung padamu."

"Sebenarnya aku juga bosan denganmu."

Kalau kamu menganggap aku lemah seperti kapas, jangan harap bahwa kamu adalah yang terkuat di hatiku. Dia merasa bersalah, dan memutuskan untuk memberikan semuanya untukku dan anak.


Sebelum bercerai, ia mengajakku untuk makan bersama, minum banyak gelas anggur, kata-katanya semakin banyak. Dia juga berharap agar aku memberikan restu padanya. Dia juga masih berbicara mengenai gadis itu. Katanya gadis itu sangat mempesona. Bersama dengan gadis itu, ia merasa ada perasaan yang menggebu-gebu. Teringat sewaktu muda aku juga cantik dan mempesona dan telah menarik perhatiannya. Aku dengan masa itu hanya terpisah beberapa tahun saja. Tapi aku telah tergantikan dengan cinta yang baru.


"Dia sangat lugu. Dengan hal kecil saja sudah bisa membuatnya bahagia."


"Pernah pergi berbelanja dan dia menang undian sabun."


"Pergi ajak dia makan pangsit Beijing, membelikannya jam tangan murah dan juga roti."


"Ia akan sangat gembira."


"Bersamanya aku merasa lebih santai."


"Aku bisa merokok di dalam rumah, bermain mahjong semalaman dan minum bir bersama teman."


Dia seperti diselimuti kembali oleh kebahagiaannya. Dan aku seperti wanita tua yang penuh dengan aturan dan perencanaan. Membeli kaos kaki saja harus diperhitungkan dengan matang. Aku melarangnya untuk merokok, minum dan bermain mahjong hingga larut.


"Dengannya aku merasa detak jantungku semakin berdegup kencang dan lebih bersemangat." Dia kelihatan seperti sedang dimabuk cinta.

Aku memotong perkataannya:


"Setelah hari ini, aku bukan lagi istri cerewetmu. Bukan lagi pembantu yang harus kamu bayar."


"Aku jadi bisa menghemat pengeluaran untuk membeli pakaianmu dan uangnya bisa aku pakai untuk kebutuhanku sendiri."


"Aku tidak perlu pusing lagi memikirkan makanan yang harus dipersiapkan untukmu"


"Pengen makan langsung saja masak, tidak ingin masak, langsung saja beli di luar. Aku tidak perlu khawatir lagi dengan kesehatan paru-parumu akibat merokok, juga kesehatan livermu akibat minum bir."


"Aku tidak perlu lagi mencuci muntahanmu di selimut, tidak perlu lagi tidur di pojokkan sofa saat kamu sedang mabuk."


"Aku tidak perlu lagi khawatir hari ini kerabatmu yang mana yang berulang tahun, yang mana sedang mencari mantu. Dan juga tidak perlu lagi mengirim uang untuk orang tua mu tiap bulan."


"Tidak perlu lagi tiap tahun menemanimu duduk lama di mobil sambil membawa banyak barang melewati jalan pegunungan hanya demi melewati malam tahun baru bersama orang tua mu."


"Benar. Cerai adalah keputusan yang tepat."

Selesai mengatakan hal ini, air mataku merembes. Dan dia hanya menatapku dengan kosong. Dan ekspresiku tetap tenang. Tapi, sedikit alkohol ternyata membuat hatiku sedikit lega. Wanita 30 tahun mana yang tidak peduli dengan pernikahannya yang sudah dijalani bertahun-tahun?

"Cerai saja. Setelah cerai lihat berapa lama kamu akan bertahan. Yang kamu paling cintai adalah dia, dia juga sangat mencintaimu kan?"


"Setelah tinggal bersama, melewati hari bersama selama bertahun-tahun, lihatlah apakah kamu masih bisa melihat perasaannya terhadapmu semakin bertambah atau tidak."


"Kalau dia memang bisa memberikan apa yang sudah kuberikan padamu selama 10 tahun, maka pergilah bersamanya. Setelah melewati itu semua, kamu akan sadar bahwa kamu hanya mengulang apa yang pernah kita lalui bersama."


"Kamu sudah mabuk." dia menatapku dengan panik.


"Cincin perunggu, buku dan pembatas buku yang aku berikan padamu kelihatannya seperti harta karun. Dan agar tanganmu tidak kedinginan, aku menjahitkan sebuah sarung tangan."


"Aku juga pernah mencintaimu, tapi semenjak menikah, peran seorang wanita akan semakin rumit."


"Ada banyak tanggung jawab yang harus dihadapi ketika bersama. Wanita tidak mungkin hanya memperhatikan orang yang dicintainya saja."


"Ia harus membagi cintanya untuk mertua, orang tua, dan untuk anaknya."


"Dari 10 cinta, setelah menikah akan tersisa 7 cinta."


"Ketika ada cinta lain yang menyerang kebahagiannya, dia pun tidak bisa menghentikannya."


"Menarik tangan gadis lain sama dengan kehangatan. Menarik tangan kekasih, segala rasa akan ada. Menarik tangan istri sama dengan tangan kiri memegang tangan kanan."


"Tangan kiri dan kanan adalah tanganmu sendiri. Istri adalah tangan kiri dan kanan suami. Saat kamu memotong lengan kiri dan punggung kananmu sendiri, bukankah sakitnya juga sama dengan yang kamu rasakan?"


Akhirnya dia bersikeras untuk tidak jadi bercerai. Aku bertanya alasannya, ia berkata: "saat kamu sadar dan tidak mabuk, alasannmu logis, dan juga kamu telah menyadarkanku."

"Memang, rumah ini tidak mudah didapat. Tidak akan ada orang yang bisa mengerti aku melebihi dirimu. Dan juga tidak akan ada orang yang bisa menggantikan posisimu di hati anak-anak."


"Aku bekerja keras selama ini untuk mendapatkan keluarga yang bahagia. Aku hampir saja menghancurkannya."


"Aku minta maaf. Ternyata orang yang paling mencintaiku sudah ada di sekitarku."


"Ternyata tanpa kamu, aku tidak bisa."

Meskipun istri tidak ada hubungan darah dengan suami, namun dia lah yang selalu membantumu mengelola pekerjaan rumah tangga, memberimu makan, merawat anak-anak dan akan selalu menemani suami disaat susah maupun senang. Dia tidak akan menyerah, dia akan selalu mendukung kamu .


Ketika kamu sakit, dia lah yang akan merawatmu seharian sampai kamu sembuh. Semua yang dilakukannya tanpa pamrih dan dengan sepenuh hati. Jadi, di dunia ini istri adalah yang paling layak mendapat cinta dan perhatian.


Kamu juga harus tahu bahwa istrimu juga cantik waktu muda. Tapi karena cintamu, barulah dia menjadi istrimu. Dia memberikan segalanya untukmu, dia rela kehilangan kecantikkannya. Kalau di dunia ini ada orang yang lebih mencintaimu dibanding istrimu, maka kamu bermasalah.


Sebagai suami harus bisa memikul tanggung jawab sebagai seorang pria. Kamu harus mencintai istrimu dengan sepenuh hati dan merawatnya. Kamu harus mengerti bahwa wanita lebih sensitif dan peka. Jadi apapun yang terjadi, kamu harus bisa menghiburnya. Jangan mengajaknya untuk ribut. Itulah baru namanya suami sejati.


Sumber: pixpo


Tulisan yang ditampilkan dalam artikel ini dilindungi oleh undang- undang Hak Cipta. Dilarang menyalahgunakan/menggunakan/mencetak seluruh isi atau sebagian, dan memperbanyak tanpa izin tertulis dari pihak Cerpen.co.id



Sponsored Ad