Mantap Jiwa! 8 Tahun Lamanya, “Bule Perancis” Ini Mengabdikan Hidupnya Untuk Bantu Masyarakat Sumba: Saya Ingin Mati Di Sini!

Wow... bule aja sampe segitunya sama rakyat Indonesia! salut!!
Sponsored Ad

Namanya Andre Graff, usianya kini 56 tahun. Delapan tahun lalu ia datang sebagai turis ke Sumba. Mata hatinya terbuka melihat tanah yang gersang dan kesederhanaan kehidupan masyarakat di Nusa Tenggara Timur. Ia mulai mencari cara untuk mencari sumber air dari tanah dan menggalinya. Perjuangannya pun cukup sulit.


Ia datang pertama kali ke Sumba sekedar mampir karena ikut kapal pesiar dari Bali. tahun 2004, ia menghabiskan waktu yang lebih lama. Ia berjalan menyusuri pulau yang sebagian tanahnya tandus, bertemu dengan orang-orang, dan berfoto. Ia pun kembali ke Perancis dan tetap melakukan pekerjaannya sebagai penerbang balon udara panas dan juuga punya usaha wisata. Andre mencetak hasil foto-fotonya di Sumba dan berniat mengirimkannya melalui pos.


Namun, niatnya untuk mengirimkan lewat pos terhenti karena ia sadar bahwa tidak akan sampai. Akhirnya, pada tahun 2005 ia kembali ke Sumba dan berkeliling untuk menyerahkan fotonya sebagai utangnya. Ternyata ia begitu terkesan dengan alam, masyarakat, dan kebudayaan Sumba yang tetap mereka pegang. Ia juga iba terhadap keadaan di sana banyak rakyat menderita.


Sponsored Ad


Andre Graff terpanggil untuk berbuat sesuatu. Ia terkesan dengan keramahan di Sumba yang tak ia temui di Eropa.  


"Di Sumba saya menemukan orang-orang yang punya banyak waktu dan punya senyum. Saya hidup bersama mereka, menurut cara mereka, benar-benar menggantungkan nasib pada alam," kata pria lajang 56 tahun ini.


Ia pun terus mencari sumber air, tidak langsung berhasil. Namun, ia sangat bahagia ketika melihat sumber air dan meminta bantuan warga untuk menggali dengan peralatan seadanya. Andre juga melanjutkan kiprahnya dengan menggali sumur di seantero pulau Sumba. Sumur dalam bentuk yang sederhana memerlukan biaya sekitar Rp 10 juta. Mula-mula ia memakai biaya sendiri, dari tabungan dan persewaan rumah di Perancis. Tapi lama-lama, sumur harus makin besar dan harus dipompa, biayanya bisa mencapai ratusan juta.



Andre pun mengontak para donatur dan meminta bantuan perlatan dari perusahaan jasa air minum di Jakarta.


"Sampai sekarang sudah terbangun 29 sumur di seuruh Sumba," kata Andre.

Menetap di Sumba dalam pola hidup yang sama dengan orang setempat membuat ia memang seperti orang di sana.


"Yang membedakan adalah saya punya kamera foto dan video, punya laptop untuk mengakses internet kalau sinyal lagi bagus. Selebihnya, saya makan dan hidup seperti orang sini," kata Andre dari rumah biiknya di Waru Wora, Lamboya, Sumba.


Sponsored Ad


Ia makan hasil bumi di sana, bahkan mengalami sakit seperti malaria dan demam berdarah berkali-kali. Hampir delapan tahun bekerja tanpa pamrih untuk peradaban manusia yang lebih baik, namun ternyata masih kurang. Ia telah jatuh cinta dengan Sumba dan menganggap bahwa Sumba adalah tanah air keduanya.


"Saya sudah minta ke Kedutaan Besar Prancis di Jakarta, nanti kalau saya mati, jangan bawa mayat saya pulang. Mayat saya tidak ada gunanya. Saya ingin dikubur di Sumba, karena yang penting adalah apa yang sudah saya perbuat untuk Sumba".


Sumber: Tribun