Aku Menceraikan Istriku Karena Ia Mengidap Kanker Stadium Akhir! Siapa Sangka, 3 Hari Kemudian, "Rumah Sakit Menelpon" dan Aku Menyesal Seumur Hidup!

Penyesalan selalu datang terlambat... Hargailah pasanganmu ketika mereka masih berada di sisimu!
Sponsored Ad

Sejak aku kecil, ayahku tidak pernah membiarkan ibuku untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Semua pekerjaan rumah dibereskan oleh ayahku. Itu semua karena jantung ibuku lemah. Setelah melahirkan aku, ayahku tidak membiarkan ibu untuk melahirkan lagi.

Sponsored Ad

Ayah sangat baik terhadap ibu. Aku juga sering mencontoh ayah sejak kecil. Ayahku adalah seorang yang pekerja keras. Meski tidak terlalu kaya, tapi kami bahagia.


Kemudian ketika aku menikah, istriku sangat berbakti dan hormat kepada ayah dan ibuku. Ayah ibuku juga sangat baik kepadanya dan hidup kita sangat nyaman. Namun, pekerjaanku tidak lancar.


Karena hal-hal buruk di tempat kerja, jadi saya sering melempar emosi kepada istri. Tapi, istriku sangat sabar, jadi ia tidak membalas bertengkar denganku.

Waktu itu aku memutuskan untuk menikahinya karena ia adalah orang yang sabar. Setelah kami menikah pun kami baik-baik saja.

Sponsored Ad

Istriku juga selalu melakukan pekerjaan rumah dengan baik dan orang tuaku sangat puas dengannya.


Tapi, hari-hari pun berlalu. Aku telah menikah dengan istri hampir dua tahun dan istriku belum juga hamil. Orang tuaku sudah terus mendesak ingin cucu, tapi istriku tidak hamil juga, aku bisa apa?


Karena urusan anak ini, kami jadi ribut. Dan akhir-akhir ini aku juga melihat istriku semakin hari semakin aneh. Wajahnya jadi kurang berseri dan orangnya juga semakin membosankan. Ia jadi sering salah ketika memasak atau membersihkan rumah. Misalnya, dia sudah menaruh garam, tapi ia menaruhnya lagi.

Aku merasa aneh, ketika ditanya, istri juga berkata tidak apa-apa. Sampai suatu hari saat istri sedang tidak di rumah, aku menerima sebuah paket dan paket itu adalah sebuah dokumen. Aku tidak bertanya kepada istriku terlebih dahulu dan aku langsung membuka amplop itu.


Istriku menderita kanker! Dan sudah stadium akhir!


Aku meletakkan dokumen itu dan tidak memberitahu apapun kepada orang tuaku. Aku pura-pura tidak tahu apa yang terjadi.

Malam itu aku minum banyak bir, tapi aku tidak mabuk. Di kepalaku hanya ada pikiran bahwa istriku menderita kanker! Aku pun membuat keputusan malam itu. Saat istriku pulang, berpura-pura dalam keadaan mabuk aku berkata aku ingin menceraikannya!

Sponsored Ad

Tapi, reaksi istriku saat mendengarnya, ia langsung mengangguk menyetujuinya.

Hari kedua, kami pun mengurus surat perceraian.


Tapi, baru saja lewat 3 hari, aku menerima telepon dari rumah sakit dan dokter mengatakan bahwa istriku baru saja menandatangani surat persetujuan untuk menyumbang jantungnya untuk ibuku!


Setelah menerima telepon itu, aku seperti orang bodoh! Istriku benar-benar menyumbangkan jantungnya untuk ibuku!

Aku menangis sejadi-jadinya! Aku minta maaf kepada istriku! Karena ia kanker, aku menceraikannya, tapi disaat ia hampir meninggal, ia masih memikirkan ibuku! Aku bukan suami yang baik dan juga bukan orang yang baik! Aku bukan laki-laki yang bertanggung jawab! Maafkan aku, istriku!


Sumber: BL


Tulisan yang ditampilkan dalam artikel ini dilindungi oleh undang- undang Hak Cipta. Dilarang menyalahgunakan/menggunakan/mencetak seluruh isi atau sebagian, dan memperbanyak tanpa izin tertulis dari pihak Cerpen.co.id